
Setelah masuk ke dalam kamar pribadinya, dengan tergesa-gesa Sean pun mulai melepas kancing kemejanya.
"Sean... Apa yang kau lakukan?" Tanya Keyla sambil kembali duduk dari pembaringannya.
"Apa yang aku lakukan?" Tanya Sean kembali pada Keyla dengan kening mengkerut.
"Ya. Kenapa kau membuka bajumu?" Tanya Keyla dengan wajah polosnya.
"Tentu saja aku ingin melanjutkan aktivitas kita tadi." Lidah Sean berdecak. Sean pun kembali melanjutkan aktivitasnya namun suara Keyla kembali menghentikan aktivitasnya.
"Hentikan Sean... Jangan melanjutkannya karena aku sedang datang bulan." Ucap Keyla dengan cepat.
"Sedang datang bulan?" Tanya Sean yang diangguki oleh Keyla.
"Aku baru saja datang bulan. Dan kau tidak bisa menyentuhku." Ucap Keyla dengan tegas.
"Apa?!" Gairah Sean yang sudah naik ke ubun-ubun surut begitu saja. "Kau sedang tidak bercanda?" Tanya Sean kembali memastikan.
Keyla menggeleng. "Aku serius." Ucapnya.
"Huh..." Sean terduduk di tepi ranjang. "Jika kau sedang datang bulan kenapa kau menuruti kemauanku untuk masuk ke dalam kamar!" Dengus Sean.
"Maaf... Tapi aku baru mengingatnya." Lirih Keyla merasa bersalah.
Sean menghela nafas panjang. "Sudahlah... Kau istirahat saja di ruangan ini. Aku ingin keluar melanjutkan pekerjaanku." Ucap Sean lalu kembali memasang kancing kemejanya yang sempat ia lepaskan lalu keluar dari dalam kamar pribadinya.
"Maafkan aku Sean. Tapi aku tidak ingin disentuh lagi olehmu di saat hatimu masih milik orang lain." Lirih Keyla merasa bersalah atas kebohongannya. Keyla pun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan helaan nafas yang kian memberat. "Walau pun aku tahu Rania sudah menikah, namun tetap saja aku hanyalah wanita biasanya yang tetap merasakan cemburu saat melihat suamiku memberikan perhatian pada wanita lain bahkan saat berada di depanku."
*
Perasaan sesak yang sejak tadi menghimpit dadanya membuat Keyla memutuskan untuk pulang lebih dulu tanpa menunggu Sean yang masih bekerja.
"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan mengantarkanmu pulang ke apartemen." Ucap Sean saat Keyla mengungkapkan keinginannya untuk pulanga dengan alasan ia sudah merasa bosan.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa pulang sendiri saja, Sean. Lagi pula aku akan pergi ke supermarket lebih dulu sebelum pulang nanti." Ucap Keyla.
Keyla mengangguk. "Percayalah." Ucapnya yang akhirnya mendapatkan anggukan kepala oleh Sean.
"Nona Keyla ingin kemana?" Tanya Deby saat Keyla keluar dari dalam ruangan Sean.
"Aku ingin pulang, Deby." Ucap Keyla mencoba tersenyum. Karena saat ini Rania tengah menatapnya dengan tatapan berbeda.
"Kenapa cepat sekali? Kita bahkan belum sempat bercerita." Ucap Rania.
"Rania benar, Nona." Timpal Deby.
"Lain kali aku akan datang lagi ke sini dan kita bisa bercerita bersama." Balas Keyla dengan lembut.
"Baiklah..." Balas Deby yang diangguki oleh Keyla.
Setelah berpamitan pada Deby dan Rania, Keyla pun segera melangkah menuju pintu lift.
"Aku tahu kau wanita yang baik. Namun hatiku tetap saja merasa sakit saat suamiku memberikan perhatian padamu bahkan di saat kau sudah mengandung anak dari suamimu." Gumam Keyla yang tertuju pada Rania.
Sedangkan Rania nampak memasang wajah bersalah saat menyadari tatapan Keyla yang nampak berbeda saat menatapannya.
"Aku sungguh merasa tidak enak pada Nona Keyla..." Lirih Rania yang dapat di dengar oleh Deby.
"Ada apa Rania?" Tanya Deby merasa penasaran.
Rania pun mulai menceritakan kejadian di dalam ruangan Sean tadi pada Deby. Deby pun mengangguk mengerti dengan maksud ekspresi Keyla tadi.
"Sepertinya aku sudah saatnya berhenti bekerja dan mengikuti perkataan suamiku." Ucap Rania setelah menimbang-nimbang.
***
Lanjut?
Vote, komen dan likenya dulu yuk.