
"Rey..." Ucap Gerry saat Mama Riana mendekat ke arahnya sambil menggendong Baby Rey.
"Pa... Pa..." Celoteh Baby Rey mengulurkan kedua tangannya pada Gerry.
Gerry tersenyum dengan berkaca-kaca. Mengingat ucapan Dokter Dika yang mengatakan jika ia sudah koma selama tujuh bulan membuat Gerry merasa bersalah karena tidak bisa melihat pertumbuhan putranya yang saat ini sudah semakin tumbuh.
"Dia sudah semakin pintar..." Mama Riana mengelus kepala cucunya.
"Mama..." Lirih Gerry. Gerry tak kalah merasa bersalah karena sudah membuat mamanya menangis karena dirinya.
Kyara mengambil alih Baby Rey saat melihat Mama Riana yang semakin larut dalam kesedihan.
"Maafkan Gerry sudah membuat Mama khawatir." Gerry mengelus punggung Mamanya yang bergetar di dalam pelukannya.
"Jangan seperti ini lagi, nak... Hati Mama sangar hancur melihat kau terbaring antara hidup dan mati..." Isak Mama Riana.
"Maafkan Gerry, Ma..." Ucap Gerry sekali lagi.
Gerry semakin merasa bersalah melihat dua wanita yang sangat dicintainya hidup dalam kesedihan selama tujuh bulan terakhir karena dirinya.
"Peluklah anakmu, Gerry... Dia sangat merindukan papanya selama ini." Ucap Mama Riana. Kemudian memberi kode pada Kyara agar meletakkan Baby Rey di atas ranjang. Mama Riana pun membantu untuk menaikkan sandaran ranjang Gerry.
"Pa, Pa, Pa." Celoteh Baby Rey sambil tertawa ketika melihat wajah Gerry tersenyum padanya.
"Anak Papa..." Gerry mencium keseluruhan wajah anaknya.
"Ehee..." Baby Rey tertawa geli saat bulu-bulu halus di wajah Gerry menyentuh wajah lembutnya.
Tak lama Papa Johan pun masuk ke dalam ruangan. Suasana haru pun kembali menyelimuti keluarga itu saat Papa johan sampai meneteskan air matanya melihat kondisi Gerry yang sudah mulai membaik dari sebelumnya.
"Papa tau kau anak yang kuat." Papa Johan menepuk pundak putranya.
Gerry tersenyum dan mengelus tangan Papa Johan yang berada di atas pundaknya. Keluarga kecil itu pun saling melepaskan rindu satu sama lainnya dengan bercerita apa saja yang dilalui Kyara dan Baby Rey selama Gerry dalam keadaan koma.
Tak lama kehadiran Kakek Surya dan Asisten Jimmy pun mengalihkan perhatian mereka yang sedang tertawa melihat tingkah lucu Baby Rey.
Tak berbeda jauh dengan Kyara, Mama Riana dan Papa Johan, Kakek Surya pun turut meneteskan air matanya melihat cucu kesayangannya sudah bangun dari tidur panjangnya.
Hingga satu bulan pun telah berlalu. Setelah melakukan terapi agar Gerry bisa kembali berjalan seperti semula karena kakinya yang lumpuh sementara akibat koma, akhirnya Gerry pun berhasil melewati masa terapinya. Dan saat ini keadaan Gerry sudah kembali berangsur pulih seperti sedia kala.
"Aku sudah sangat rindu bertemu dengan Rey. Lagi pula aku harus segera kembali ke perusahaan. Aku sungguh tidak tega melihat di usia kakek seperti saat ini ia harus bekerja siang dan malam untuk membantu pekerjaan yang seharusnya menjadi tugasku." Terang Gerry.
"Tapi kondisimu belum benar-benar pulih seluruhnya." Lirih Kyara.
"Aku sudah baik-baik saja, sayang." Gerry mencium puncak kepala Kyara.
Deg
Jantung Kyara berdetak begitu kencang saat Gerry mengatakan kata sayang kepadanya untuk pertama kalinya.
"Sa-sayang?" Beo Kyara mendongak menatap pada wajah Gerry.
"Apa aku tidak boleh memanggilmu seperti itu?" Gerry menatap ke dalam kedua mata Kyara.
"Tentu saja boleh." Kyara segera membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"Eh.. Maksudku terserah kau saja." Kyara memalingkan wajahnya karena merasa rona merah mulai menyembul di kedua pipinya.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺