
Kyara meringis merasakan keningnya begitu sakit ketika menabrak dada bidang William.
"Eh, maafkan saya, Ara..." Tangan William yang hendak menjangkau kening Kyara terhenti karena Kyara langsung menjauhkan tubuhnya.
"Apa kalian tidak bisa menjaga diri untuk tidak bermesraan ketika sedang berada di ruangan orang lain?" Ucap Gerry dingin.
Sontak Kyara dan William menoleh ke arah sumber suara. Bahkan mereka tidak mendengar bunyi pintu yang terbuka ketika Gerry masuk ke dalam ruangannya.
"Bermesraan?" Cicit Kyara tidak mengerti. Seperkian detik matanya membola. Apa Pak Gerry sudah masuk ke dalam ruangan sejak aku menabrak Pak William tadi? Batin Kyara berteriak takut.
"Kami tidak bermesraan. Kyara hanya tidak sengaja menabrak tubuhku." Jawab William acuh.
Gerry mengeram kesal. Pandangannya beralih pada Asisten Jimmy. "Berikan berkas-berkas yang diperlukan William!" Titahnya.
Jimmy mengangguk dan segera mengerjakan perintah tuannya.
"Di dalam dokumen itu sudah berisi hal-hal apa saja yang perlu kau selesaikan sebelum mengecek proyek pembangunan jembatan di kota S esok hari. Dan selebihnya biar aku yang mengerjakannya." Ucap Gerry datar pada William.
"Jadi kapan kau akan menyusul ke kota S?" Tanya William setelah mengambil dokumen yang diberikan Asisten Jimmya.
"Tiga hari setelah keberangkatan kau ke sana. Ada hal yang perlu aku kerjakan terlebih dahulu sebelum ke sana." Jelas Gerry.
Beberapa bulan belakangan William memang benyak terlibat kerjasama dengan Gerry. Mengingat jaringan bisnis Gerry sudah tersebar di dalam dan luar negeri. William meminta bantuan Gerry membantunya mencari investor di dalam negeri untuk kemajuan perusahaan cabangnya yang baru di Indonesia.
Sebenarnya bisa saja William mengerjakan semuanya sendiri. Hanya saja dengan meminta bantuan Gerry, ia bisa sering datang ke perusahaan Gerry untuk bertemu dengan pujaan hatinya sekaligus membahas rancangan bisnis mereka.
"Ara..." Panggil William setelah ia selesai berbicara dengan Gerry.
"Agh, iya, Pak..." Sahut Kyara menatap William. Kemudian ia tertunduk melihat pandangan Gerry yang begitu tajam ke arahnya.
"Aku harus pergi dulu. Dan dalam tiga hari ke depan aku akan berada di luar kota. Kau jangan merindukanku, ya!" Goda William seperti biasa mengedipkan sebelah matanya.
Kyara hanya tersenyum tipis menanggapi godaan William. Tidak tahukah William saat ini dirinya tengah mati-matian menahan kegugupannya berada di ruangan itu.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak..." Pamit Kyara melirik ke arah William.
"Sekalian saja. Aku juga akan keluar." Ucap William cepat. "Gerry, aku pergi dulu." Pamitnya pada Gerry. Kemudian beralih pada Asisten Jimmy. "Terimakasih bantuannya, Jimmy!" Jimmy pun mengangguk sebagai jawaban.
Setelah kepergian Kyara dan William. Rahang Gerry nampak mengeras mengingat kejadian di dalam ruangannya. "Dasar wanita murahan!" Makinya pada wanita yang baru keluar dari dalam ruangannya.
Asisten Jimmya yang melihat kemarahan Tuannya, hanya bisa menghela nafas. Ia tahu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Tuan, setelah ini kita ada pertemu—" Ucaan Jimmy terputus karena Gerry langsung memotongnya.
"Batalkan semua jadwal saya hari ini! Dan bawa wanita itu ke hotel XX sekarang juga!" Titahnya tak terbantahkan. Merapikan jasnya yang sama sekali tidak kusut. Gerry melangkah keluar dari dalam ruangannya meninggalkan Asisten Jimmy.
*