
"Kyara... Tapi tolong jelaskan dulu kepadaku kenapa kau menangis?" Ucap Rania lagi.
Kyara pun menceritakan mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Air mata Kyara kembali mengalir deras karena ketakutan akan kehilangan suaminya.
Rania menatap iba pada sahabatnya yang nampak ketakutan itu. Rania pun memeluk tubuh Kyara dan Baby Rey secara bersamaan.
"Itu semua hanya mimpi, Kya... Percayalah Pak Gerry pasti akan baik-baik saja." Rania berusaha menenangkan sahabatnya.
"Tapi tetap saja aku takut, Rania. Sudahlah. Aku harus segera ke rumah sakit." Kyara melepas rengkuhan Rania.
"Tunggulah sebentar. Aku akan meminta sopir untuk mengantarkanmu." Rania Berjalan cepat menuju ruangan belakang karena saat ini sopir keluarga Bagaskara tengah istirahat di sana.
*
Sesampainya di rumah sakit, Kyara segera berjalan dengan sedikit cepat agar cepat sampai di ruangan suaminya. Hana yang melihat teman dekatnya dari jauh sambil menangis itu pun sontak berjalan menghampiri Kyara.
"Kyara...." Panggil Dokter Hana membuat langkah Kyara terhenti. "Kenapa kau menangis?" Tanyanya saat sudah berada di depan Kyara.
"A-aku ingin bertemu dengan suamiku." Ucap Kyara sedikit terbata.
"Tapi... Kenapa kau membawa Baby Rey? Tidak baik membawa bayimu ke rumah sakit seperti saat ini." Terang Hana.
"Aku harus mempertemukan Rey dengan papanya, Hana." Lirih Kyara. "Maaf aku harus segera pergi." Kyara yang tak ingin membuang waktu itu pun segera pergi dari hadapan Dokter Hana.
Dokter Hana yang melihat itu pun langsung mengikuti langkah Kyara. Menatap pada wajah tampan Baby Rey yang sedang melihat ke arahnya.
"Sebenarnya kau itu kenapa, Kyara?" Dokter Hana merasa cemas melihat keadaan Kyara saat ini.
"Kyara... Kenapa kau menangis?" Dokter Dika yang hendak masuk ke dalam lift menghentikan niatnya saat melihat Kyara keluar dari dalam lift dengan berderai air mata. "Kenapa kau membawa Baby Rey?" Sama seperti Dokter Hana, Dokter Dika pun melontarkan pertanyaan yang sama.
Dokter Hana yang berada di belakang Kyara hanya diam menatap pria yang nampak khawatir dengan kondisi teman baiknya saat ini.
"Maaf, aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku harus ke ruangan Gerry sekarang juga. Tolong jangan halangi aku!" Pinta Kyara menghiba.
Pandangan Dokter Hana dan Dokter Dika pun bertemu. Dokter Hana dengan cepat memutus pandangan itu dan segera berlalu dari hadapan Dokter Dika.
Suara langkah kaki yang terdengar tergesa-gesa mengalihkan perhatian Mama Riana dan Papa Johan yang sedang terlibat percakapan di depan ruangan rawat Gerry.
"Kyara..." Ucap Mama Riana dan Papa Johan nyaris bersamaan. Tak berbeda jauh dengan Hada dan Dika, Mama Riana dan Papa Johan pun turut terkejut melihat Kyara membawa Baby Rey saat ini.
"Mama...." Kyara berjalan mendekat ke arah mertuanya.
"Kau kenapa, sayang?" Mama Riana nampak khawatir melihat keadaan menantunya yang tidak baik-baik saja.
"Bagaimana keadaan Gerry, Ma? Apa Gerry baik-baik saja?" Tanyanya tak sabar.
Mama Riana menatap bingung pada menantunya. "Kondisi Gerry masih sama seperti sebelumnya, sayang..." Balas Mama Riana.
"Sayang... Baby Rey?"
"Kya akan membawa Rey bertemu dengan Papanya, Mah... Maaf. Kya harus ke dalam dulu." Ucap Kyara kemudian segera masuk ke dalam ruangan Gerry dengan membawa Baby Rey.
***
Lanjut lagi gak?
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺