
Kyara mengelap keringat yang bercucuran di dahinya dengan satu lembar sapu tangan yang selalu ia bawa. Nafasnya terengah-engah. Padahal Kyara baru saja menyikat sebagian lantai toilet. Masih ada sebagian lagi yang belum di sikatnya. Indera penciumannya yang sangat sensitif membuat Kyara acap kali memuntahkan isi perutnya. Bahkan makanan makan siang yang belum lama masuk ke dalam perutnya keluar begitu saja.
Kyara mendudukkan tubuhnya di tepi dinding keramik bewarna biru muda. Tubuhnya sungguh lelah. Ditambah ia sudah merasa tidak kuat harus mencium bau toilet yang membuat perutnya bergejolak. Kyara menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di sana.
Air matanya menetes begitu saja merasa lelah pada tubuhnya. Ia tidak mau memaksakan untuk cepat menyelesaikan pekerjaannya. Bukan karena malas. Kyara hanya tidak ingin bayi mungil yang masih bersemayam di perutnya kenapa-napa. Sesekali tangannya mengelus perutnya. Berharap bayi mungil itu tidak kenapa-napa di dalam rahimnya. Tak jarang Kyara mengajak calon anaknya berbicara. Mengejak anaknya untuk bekerja sama dan tidak rewel saat ia sedang bekerja.
Kepala Kyara mendongak ketika mendengar suara sepatu yang beradu dengan keramik berjalan cepat ke arahnya. Namun tubuhnya tetap berada di posisi semula tanpa berniat untuk beranjak dan melihat siapa pemilik suara itu.
"Kyara..." Suara panggilan yang terdengar keras dan jangan lupakan nada panik di sana.
Agh, sekarang Kyara sudah dapat menebak siapa pemilik suara itu. Rania. Ya, Rania sahabat baiknya. Tapi... Bagaimana bisa Rania berada di tempat yang sama dengannya?
"Ya ampun, Kya..." Pekik Rania ketika melihat tubuh sahabatnya yang kini bersandar ke dinding menekuk kedua kakinya. "Ayo berdiri!" Memegang kedua lengan Kyara membantu Kyara berdiri.
"Kau tak apa?" Rania meneliti satu per satu bagian tubuh Kyara. Pandangannya terhenti di wajah Kyara yang nampak pucat.
"Aku sungguh tak apa, Rania..." Ucap Kyara sebelum Rania angkat bicara.
"Aku belum menyelesaikan pekerjaanku, Rania. Bagaimana kalau Bu Retno datang dan memarahiku..." Ucap Kyara merasa cemas.
"Kau tidak perlu memikirkannya. Biar aku yang bertanggungjawab jika Bu Retno memarahimu!" Ucapnya tak ingin dibantah.
"Tolong jangan mempersulit keadaanku, Rania..." Lirih Kyara. Bukannya tidak mau menerima bantuan Rania. Hanya saja ia tidak ingin lagi menambah masalah jika Bu Retno mengetahuinya.
"Mempersulit keadaanmu? Aku hanya ingin membantumu, Kya... Kenapa kau malah menyebut aku mempersulit keadaanmu!" Ucap Rania tak terima.
"Bukan seperti itu maksudku, Rania... Hanya saja aku tidak ingin kau juga terlibat di dalam masalah hidupku... Apa kau tahu..." Kyara menatap kedua bola mata Rania yang sudah tergenang seperti dirinya. Kekhawatiran nampak tersirat di sana.
"Aku berada di sini karena Bu Retno mengetahui jika mau membantu pekerjaanku. Dan aku harus mendapat hukuman saat ini karena itu. Aku tahu maksudmu baik ingin menolongku, Rania. Hanya saja, untuk saat ini biarkanlah aku bekerja seperti biasanya. Aku bisa menjaga diriku dengan baik saat bekerja. Aku hanya tidak ingin kau terlibat terlalu dalam di permasalahan hidupku, Rania. Tenanglah... Hanya dua bulan. Hanya dua bulan lagi aku bekerja di sini. Biarkan aku melakukan tugasku dengan baik di sisa waktuku berada di sini, Rania..." Jelas Kyara berderai air mata.
***