Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sampai melihatnya bahagia


"Asik... Kapan Daddy akan memberikan adik bayi untukku? Apa besok?" tanya Cilla dengan polosnya.


"Tentu saja tidak. Daddy akan memberikannya beberapa bulan lagi. Karena Daddy dan Mom harus membuat adik bayi lebih dulu." Balas Calvin apa adanya.


"Calvin." Bianca tanpa sadar menepuk lengan suaminya mendengar ucapan suaminya yang terlalu terbuka pada putrinya yang masih kecil.


Calvin menolehkan wajah dan menatap datar pada Bianca.


"Kenapa Mom memukul Daddy?" Suara Cilla terdengar tak suka. "Apa Mommy tidak ingin memberikan adik bayi untukku?" Tanya Cilla dengan nada tak ramah.


"Bukan begitu Cilla."


"Apa Mommy memang tidak ingin memberikan adik bayi untukku sedangkan Daddy ingin?" suara Cilla semakin tak ramah.


"Cilla... Bukan seperti itu. Mommy ingin memberikan adik bayi untukmu." Ucap Bianca dengan lembut.


"Apa ucapan Mommy dapat dipercaya?" Cilla menatap wajah Bianca menyelidik.


Bianca mengangguk. "Tapi tidak untuk sekarang. Kau masih kecil dan Mom tidak ingin nantinya kau merasa kekurangan kasih saya g dari Mommy." jelas Bianca pada akhirnya.


"Cilla tidak akan merasa seperti itu. Mom dan Daddy pasti akan tetap menyayangi Cilla. Pokoknya Cilla ingin adik bayi." Ucap Cilla dengan tegas. Gadis kecil itu berbicara seperti layaknya orang dewasa.


"Baiklah. Mom akan memberikannya untukmu." Balas Bianca tak ingin lagi berdebat dengan putrinya."


"Asik... terimakasih Mommy!" Seru Cilla begitu bersemangat.


*


"Calvin itu ada-ada saja. Kenapa dia berbicara seperti itu pada Cilla? Aku sungguh takut jika dia hanya memberikan harapan palsu pada Cilla." Bianca membuang nafas kasar di udara. Jujur saja sampai saat ini ia masih meragu arti sikap Calvin yang semakin berubah kepadanya walau pun mereka sudah kembali menyatu.


"Sepertinya aku harus kembali pulang malam hari ini." Gumam Bianca saat sudah memegang jas pesanan Tuan James. "Pria itu benar-benar menguji imanku sejak dulu." Geramnya.


Bianca pun kembali mengingat setiap pertemuannya dan Tuan James yang selalu membuat darahnya naik. Entah mengapa dengan sikapnya yang hampir sama datar dan kaku seperti Calvin selalu membuatnya geram setiap bertemu dengan pria itu.


"Apa dia sengaja selalu menguji imanku?" Gumam Bianca. Tak ingin larut dalam pemikirannya, Bianca pun lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.


*


Jam sembilan malam, sebuah mobil bewarna hitam nampak terparkir tidak terlalu jauh dari butik Bianca berada.


"Apa wanita itu benar-benar ingin menyelesaikannya malam ini?" Tanya James pada Hugo sambil memperhatikan lampu ruangan atas butik Bianca yang masih hidup.


"Sepertinya begitu, Tuan." Balas Hugo.


"Dia memang wanita pekerja keras." Puji James menarik sudut bibirnya ke samping. "Dan karena kerja kerasnya itu akhirnya kini dia sudah memiliki banyak cabang butiknya bahkan sampai di luat negeri." James terus berbicara. Memuji kehebatan Bianca.


"Anda benar, Tuan. Maka dari itu banyak pria di luar sana yang menginginkan menjadi pendamping hidup Nona Bianca."


"Termasuk diriku." Balas James dengan cepat.


"Namun sayangnya saat ini Nona Bianca sudah menikah dengan pria yang sangat dicintainya dan ayah dari anak kandungnya." Ucap Hugo yang membuat wajah James berubah datar.


"Aku tidak perduli. Aku akan terus berusaha mendekatinya dan membuatnya selalu mengingat wajahku. Tapi semua itu bisa saja aku hentikan jika aku dapat memastikan dengan mataku sendiri jika Bianca sudah merasa bahagia dan dicintai oleh suaminya." Ucap James sungguh-sungguh.


***


lanjut?