
Gerry menatap dari jauh Kyara dan Rania yang sedang berjalan keluar dari dalam rumah sakit. Hatinya kembali menghangat saat melihat perut buncit Kyara dari jauh.
"Kenapa berhenti di sini? Bukannya pangkalan ojek belum kelihatan" Tanya Kyara merasa aneh.
"Hm... Kya... Sebenarnya kita akan pulang dengan Asisten Jimmy."
"Apa? Tidak... Aku tidak mau..." Kyara hendak berjalan kembali, namun dengan cepat Rania menghentikan langkahnya.
"Kau tidak lihat jika saat ini sudah hampir tengah malam? Kita akan lebih aman jika diantarkan pulang oleh Asisten Jimmy. Belum tentu juga kita dapat ojek malam-malam begini, Kya... Kalau ada yang berniat jahat pada kita bagaimana?" Tutur Rania memberi pengertian.
Kyara nampak menghembuskan nafas kasar di udara. Tak lama mobil BMW bewarna hitam berhenti di depan mereka.
"Aku tidak mau..." Kyara tetap keras kepala.
"Hei, Kya... Kau lihatlah ke dalam sana. Tidak ada Pak Gerry di dalamnya."
Kyara menurut. Dan benar saja, hanya Asisten Jimmy yang ada di dalam mobil itu. Tak lama Asisten Jimmy pun keluar dari dalam mobil.
"Silahkan masuk, Nona." Ucap Asisten Jimmy mempersilahkan Kyara dan Rania untuk masuk ke kursi penumpang.
"Ayolah, Kya... Kali ini saja pikirkan nasib anakmu di dalam sana."
"Baiklah." Mau tidak mau Kyara pun masuk ke dalam mobil. Ia pun merasa tidak tega melihat wajah lelah Rania.
Setelah mobil mulai melaju meninggalkan perkarangan rumah sakit, mobil yang membawa Gerry pun ikut melaju mengikuti mobil Asisten Jimmy.
"Jika kau lelah tidurlah." Ucap Rania pada Kyara yang nampak menguap.
"Kenapa aku mudah mengantuk akhir-akhir ini ya, Rania?" Tanya Kyara merasa heran.
"Bukannya semenjak awal hamil kau juga mudah mengantuk?" Sungut Rania.
"Ish... Kau ini..." Sungutnya lagi. Kemudian menyandarkan kepala Kyara di bahunya. "Tidurlah..." Ucap Rania kemudian.
Kyara pun mengangguk. Tak lama matanya pun terpejam diikuti dengkuran halus keluar dari hidung Kyara.
Di belakang kemudi, Asisten Jimmya dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka. Asisten Jimmy merasa terharu melihat persahabatan dua wanita di belakangnya saat ini. Dan Nona mudanya sangat beruntung memiliki sahabat seperti Rania. Setidaknya Asisten Jimmya merasa tidak terlalu begitu khawatir saat Nona mudanya berada jauh dari jangkauannya.
"Kya... Bangun... Kita sudah sampai..." Rania menepuk pelan bahu Kyara berharap Kyara segera bangun. Namun usahanya hanya sia-sia melihat Kyara yang masih lelap dalam tidurnya.
"Bagaimana ini?" Tanya Rania yang sudah merasa bingung.
"Tunggulah sebentar." Asisten Jimmy pun keluar dari dalam mobilnya. Tak lama ia pun kembali dengan di dampingi Gerry.
"Biar saya menggendongnya." Ucap Gerry saat membuka pintu mobil.
Rania mengangguk patuh. Lagi pula ia juga kasihan melihat Kyara yang terlalu lama tidur dalam keadaan tidak nyaman.
Gerry pun dengan hati-hati menggendong tubuh Kyara yang begitu damai dalam tidurnya.
"Apa Bapak kuat menggendongnya sampai ke kamar?" Tanya Rania pelan saat menunjukkan dimana letak kamar Kyara berada.
Tanpa menjawab ucapan Rania, Gerry pun menaiki tangga dengan hati-hati. Setelah memastikan Gerry sudah sampai di atas dengan selamat membawa tubuh Kyara, Rania pun memilih untuk turun menemui anggotanya yang belum pulang karna mengunggunya pulang.
Setelah masuk ke dalam kamar Kyara, Gerry pun dengan hati-hati membaringkan tubuh Kyara di atas ranjang. Lagi-lagi Gerry menghela nafas berat saat memperhatikan ukuran kamar Kyara yang sangat jauh berbeda dari kamarnya. Di saat ini bisa tidur di kasur yang empuk dan luas, tapi istrinya hanya bisa tidur di kasur yang cukup kecil dan ruangan yang sempit.
***
Jangan lupa berikan dukungan dengan cara like, komen dan votenya ya...
Terimakasih..