
"William..." Panggil Rania sambil menepuk bahu pria itu beberapa kali untuk membangunkannya.
Kedua kelopak mata William mulai terbuka. "Rania..." Ucap William dengan parau kemudian bangkit untuk duduk.
"Bukankah hari ini kau harus bekerja?" Tanya Rania mengarahkan pandangan pada jam yang menggantung di dinding.
William mengikuti arah pandang Rania kemudian mengangguk. "Terimakasih telah membangunkanku. Aku akan mandi terlebih dahulu." Ucap William.
"William..." Ucap Rania menahan pergelangan tangan William yang hendak meninggalkannya.
"Ada apa Rania?" Tanyanya.
"Kenapa kau tidur di sini?" Tanya Rania mengeluarkan isi pemikirannya.
William sejenak terdiam. "Pekerjaanku tadi malam cukup banyak. Sehingga aku ketiduran di sofa setelah selesai mengerjakannya." Kilah William dengan tatapan bersalah.
Rania mengangguk saja walau tak yakin. "Aku sudah menyiapkan pakaian kerja untukmu di kamar. Aku tidak terlalu tahu bagaimana seleramu berpakaian. Jika kau tidak menyukai pakaian yang aku siapkan, kau boleh menukarnya dengan yang baru." Tutur Rania.
William terdiam. "Aku akan memakai pakaian yang kau siapkan."
"Oh iya. Aku tidak bisa menyiapkan sarapan pagi karena tidak ada bahan-bahan yang bisa dimasak di dalam kulkas."
"Tak masalah. Aku bisa sarapan di perusahaan. Dan untukmu aku akan memesankannya sebentar lagi." Balas William.
"Baiklah." Ucap Rania memaksakan senyumannya.
Lima belas menit berlalu, William nampak menuruni tangga dengan tergesa-gesa dengan menggunakan pakaian kerja yang disiapkan oleh Rania.
"Rania... Aku harus berangkat sekarang juga. Steve menelfonku jika acara rapat pagi ini harus dimajukan lebih awal."
William melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Apa kau tak masalah jika berada sendiri di sini?" Tanya William.
"Tak masalah. Pergilah. Tidak perlu mengkhawatirkanku."
William mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Rania.
Jika aku tahu menikah denganmu membuat jarak di antara kita semakin menjauh, aku akan lebih memilih agar kita tidak saling mengenal sebelumnya sehingga hatiku tidak terlalu sakit seperti ini. Batin Rania merasa miris.
*
Sepulangnya dari pasar, Rania pun beristirahat sejenak kemudian kembali melanjutkan kegiatannya untuk memasak. Seharian itu Rania pergunakan waktunya untuk menyibukkan diri dengan memasak berbagai makanan dan juga membersihkan barang-barang yang sedikit berantakan dan berdebu di apartemen itu.
"Tidak enak juga rasanya sendirian di apartemen sebesar ini seorang diri." Keluh Rania menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ranjangnya memang sangat empuk. Wajar saja aku sampai bangun sedikit lama dari biasanya tadi pagi." Rania sedikit tertawa di akhir ucapannya.
Sore itu Rania menyambut kepulangan William dari bekerja dengan senyum manis di bibirnya. William yang mendapatkan senyuman manis bak madu itu sedikit tertegun. Wajah Rania yang hanya terpoles lip dan bedak tipis itu nampak begitu manis di matanya.
"Sepertinya kau pulang lebih awal hari ini?" Tanya Rania saat melihat jam masih menunjukkan pukul setengah lima sore.
"Aku memang sengaja pulang lebih awal karena mengkhawatirkanmu." Ucap William apa adanya. Di perusahaan ia memang merasa tidak tenang sebab memikirkan keadaan Rania yang berada di apartemennya seorang diri.
"Mengkhawatirkanku?" Tanya Rania dengan kening mengkerut dalam.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...