
Tak terima dengan ucapan resepsionis yang seolah melarangnya menemui Gerry, Ketty pun membuat keributan. Salah satu resepsionis pun berinisiatif memberitahu pada Asisten Jimmya perihal keributan di lobby.
Asisten Jimmy nampak menghela nafas setelah menerima telepon dari bagian resepsionis. Setelah memberitahu perihal keributan di lobby pada Gerry, Asisten Jimmy pun beranjak dari ruangan rapat menuju lobby.
"Nona Ketty..." Panggil Asisten Jimmy melihat wanita itu masih menatap nyalang pada resepsionis.
Ketty berbalik. Senyum miring nampak tercetak di wajahnya.
"Katakan pada mereka siapa aku sebenarnya! Yang benar saja aku dilarang menemui kekasihku sendiri. Bahkan aku ini calon Nyonya muda di keluarga Bagaskara!" Ungkapnya begitu angkuh.
Salah satu dari tiga orang resepsionis yang masih mengangguk pun mendongak. "Kami hanya memberitahu jika Pak Gerry sedang melakukan rapat. Dan Nona ini juga belum membuat janji sebelumnya dengan Pak Gerry." Ucap salah satu resepsionis membela diri. Jika mereka disalahkan dalam hal ini, bisa tamat riwayat mereka. Bahkan kemungkinan buruknya mereka akan diberhentikan dengan tidak hormat dan akan sulit mencari pekerjaan baru.
"Diam kau...!" Pekik Ketty menatap tak suka orang yang melawannya.
"Pak Gerry memang sedang melakukan rapat Nona. Sebaiknya Nona Ketty ikut saya ke ruangan Pak Gerry." Asisten Jimmy menuntun Ketty untuk memasuki lift menuju ruangan Gerry.
Sebelum benar-benar masuk ke dalam lift. Ketty berbalik menghadap pada ketiga bagian resepsionis dengan tatapan permusuhan.
"Ternyata Nona itu benar-benar kekasih Pak Gerry. Bagaimana ini?" Resepsionis nampak berbisik-bisik setelah kepergian Ketty dan Asisten Jimmy.
"Aku juga tidak tahu. Tapi bagaimana mungkin wanita seperti dia akan menjadi pendamping Pak Gerry. Sikapnya sungguh angkuh!" Cibir Resepsionis satu lagi.
"Benar. Tapi semoga saja posisi kita tetap aman bekerja di perusahaan ini. Lagi pula aku yakin Pak Gerry bukanlah orang yang sembarangan memecat orang lain tanpa permasalahan yang jelas.
Mereka pun mengangguk setuju. Semoga saja nasib baik masih berpihak pada mereka.
*
"Ketty..." Gumam Gerry tak percaya jika kekasihnya itu benar-benar sudah berada di negaranya saat ini.
Ketty segera berhamburan di pelukan Gerry saat tubuhnya sudah berada di dekat pria itu. Gerry membalas pelukan kekasihnya dengan begitu erat. Tak lupa pria itu menghujami ciuman di puncak kepala Ketty.
"Kau di sini, Sayang?" Ucap Gerry dengan berbinar setelah pelukan mereka terlepas.
"Seperti yang kau lihat, Sayang... Aku di sini hanya satu minggu. Setelah itu aku akan kembali ke negara S untuk menyelesaikan pemotretan yang terakhir."
"Dan setelah itu kau akan kembali lagi ke sini dan menetap di sini bukan?"
"Tentu saja." Ketty kembali memeluk erat tubuh kekar kekasihnya. "Aku sudah tidak sabar untuk menagih janjimu, Sayang..." Ketty berjinjit. Menjangkau bibir Gerry kemudian memangutnya dengan rakus.
Gerry tak tinggal diam. Ia membalas setiap perlakuan Ketty dengan tak kalah buas. Setelah merasa pasokan oksigen mulai berkurang. Mereka melepas pangutannya.
"Kau semakin terlihat tampan..." Ketty memegang wajah Gerry dengan ke dua tangannya. Tangannya mulai membelai wajah kekasihnya dengan lembut.
Gerry menahan tangan Ketty yang mulai turun ke dadanya. Pria itu memejamkan kedua matanya merasa ada sesuatu yang mulai bereaksi di bawah sana.
***