Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sumber energi Sean


Rania menatap sebal pada pria yang tengah duduk memeriksa dokumen di hadapannya saat ini. "Kenapa tugasku sebagai sekretarismu hanya menemanimu saat bekerja di luar kantor dan luar kota saja?" Protes Rania setelah cukup lama terdiam menatap pria yang masih saja sibuk dengan berkas-berkasnya tanpa memperdulikan keberadaannya.


"Ya itu memang tugasmu. Kau hanya perlu menemaniku sebagai sumber energi untukku." Ucap Sean dengan santai. Melepaskan kaca mata anti radiasi yang bertengger di hidung mancungnya di atas meja.


"Apa?!" Rania hampir saja menggebrak meja di depannya jika saja ia tidak bisa mengontrol emosinya. "Apa tidak ada tugas lain untukku? Jika hanya untuk menemanimu, Felix juga bisa!" Dengus Rania.


Sean tertawa. "Kau itu kenapa selalu sering marah? Bagaimana jika tidak ada pria yang mau denganmu karena kegalakanmu itu." Cibir Sean.


"Apa kau lupa jika aku sudah menikah!" Cetus Rania.


"Ya, ya. Tapi kau belum bisa bukan menjinakkan suamimu? Mungkin saja itu semua terjadi karena dia sangat takut akan keganasanmu." Seloroh Sean.


"Sean..." Rania menatap tajam pada pria menyebalkan itu. "Aku sedang tidak bercanda!" Amuk Rania. "Bagaimana jika karyawanmu yang lain tau tentang tugasku dan mereka memusuhiku karena dapat gaji tanpa bekerja." Protes Rania lagi.


"Kau tenang saja. Tidak akan ada yang berani memusuhimu. Lagi pula seperti yang Deby jelaskan, nanti kau juga akan ikut membantunya membuat laporan atau pun memeriksa dokumen jika diperlukan. Saat ini kau hanya perlu belajar dan memperhatikan bagaimana kerja Deby sebagai sekretaris dan juga menemaniku jika ada pekerjaan di luar kantor jika diperlukan." Jelas Sean menatap Rania dengan serius. "Lagi pula jika saat ini aku langsung memberikanmu tugas yang sesungguhnya, kau pasti akan bingung untuk mengerjakannya." Tambah Sean.


Rania menghela nafas lega. "Baiklah. Tapi sesuai perkataanmu, jika aku sudah memahami pekerjaanku dengan baik, aku akan mendapatkan tugas sebagai seorang sekretaris yang sebenarnya."


"Kau tenang saja. Aku tahu kau cukup pintar memahami segala sesuatunya. Aku cukup tahu kemampuanmu itu Rania. Namun saat ini aku lebih membutuhkanmu sebagai sumber energiku." Ucap Sean dengan tertawa di akhir ucapannya.


Lagi-lagi Rania hanya bisa mendengus mendengar ucapan Sean yang cukup membuatnya sebal. "Lalu dengan acara nanti malam? Apa aku benar harus menemanimu?" Tanya Rania.


Sean mengangguk. "Ya. Kau akan menjadi pendampingku di hadapan orangtuaku."


"Menjadi pendampingmu?" Tanya Rania mengulangi ucapan Sean.


"Ya. Mendampingiku sebagai sosok sekretarisku yang baru dan juga mungkin sebagai pasanganku." Sean tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata yang membuat Rania sebal.


"Baiklah. Terserah kau saja!" Ucap Rania tak ingin berlama-lama berdebat dengan teman sekaligus atasannya saat ini.


"Good girl..." Ucap Sean tersenyum lebar.


"Apa sekarang aku sudah bisa keluar?" Tanya Rania yang sudah tidak ingin berlama-lama dengan pria yang membuat emosinya naik.


"Ya. Terimakasih atas pujianmu." Rania tersenyum. "Kalau begitu aku keluar dulu." Pamit Rania.


"Oh iya, Rania. Untuk acara nanti malam, Felix sudah mempersiapkan baju yang akan kau kenakan dan juga MUA untuk merias wajahmu." Ucap Sean saat Rania hendak membalikkan tubuhnya. "Nanti sore Deby akan mengantarkanmu ke tempat untukmu dirias." Tambah Sean.


"Baiklah. Terserah Tuan Sean saja." Ucap Rania kembali bersikap formal.


"Dan ingat! Kau hanya boleh bersikap formal jika hanya ada orang lain diantara kita."


"Iya, Iya."


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...