
Kyara terdiam. Ternyata perasaan bersalah itu masih saja menghantui suaminya hingga sampai saat ini. "Buat yang telah berlalu tidak perlu kau ingat lagi. Yang ada saat ini hanya ada kita dan anak-anak kita nanti tanpa ada masa lalu di dalamnya. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran. Namun tidak untuk membuatmu kepikiran hingga selalu merasa bersalah. Aku sudah memaafkan segala kesalahanmu. Maka dari itu aku harap kau juga tidak lagi mengingat masa-masa suram itu. Semua orang punya masa lalu yang buruk. Bukan hanya dirimu." Ucap Kyara sambil mengelus punggung tangan suaminya.
"Terimakasih sayang... Terimakasih atas sucinya hatimu memaafkan segala kesalahanku." Gerry memeluk Kyara dari samping. Memberikan ciuman bertubi-tubi di puncak kepala istrinya. "Aku sangat mencintaimu." Ucap Gerry sambil memberikan kecupan singkat di bibir istrinya.
"Begitu pula aku." Balas Kyara tersenyum.
"Jadi maukah kau untuk mengandung anakku lagi?" Tanya Gerry penuh harap. "Bagaimana pun juga aku sangat menginginkan seorang anak lagi dari rahimmu." Lanjut Gerry kemudian.
"Baiklah. Aku mau. Tapi kita harus tetap memberikan kasih sayang penuh kepada Rey agar Rey tidak merasa cemburu pada adiknya nanti."
"Itu sudah pasti, Sayang..." Balas Gerry tersenyum. "Dan bolehkan aku untuk meminta satu permintaan lagi?" Tanya Gerry dengan ragu.
"Katakan saja." Balas Kyara.
"Bisakah untuk saat ini kau mengganti panggilanmu kepadaku menjadi panggilan sayang? Aku sangat ingin mendengar suara merdumu memanggilku dengan sayang." Pinta Gerry seperti anak kecil.
Kyara nampak menimbang-nimbang. Sebenarnya ia masih sedikit canggung bila memanggil Gerry dengan sebutan lain.
"Hm... Baiklah Sayang..." Ucap Kyara pada akhirnya yang membuat senyuman lebar terbit di bibir Gerry.
"Kau sungguh manis saat mengatakannya." Balas Gerry mengelus pipi Kyara dengan sayang lalu bergantian dengan pipi Baby Rey.
Kyara tersenyum malu.
"Karena kau sudah mengizinkannya. Berarti mulai malam ini kita sudah bisa memulai program pabrik untuk pembuatan adik Rey." Ucap Gerry dengan seringaian licik di bibirnya.
"A-apa?"
*
Pukul setengah satu malam, tidur nyenyak William terasa terganggu akibat tangan seseorang yang terus menekan pipinya.
"William..." Suara lembut dari bibir istrinya membuat William akhirnya terjaga dari tidurnya.
"Aku ingin makan sate kambing..." Rengek Rania sambil terus menekan pipi William karena suaminya itu kembali memejamkan matanya. "William..." Rengek Rania lagi semakin keras.
"Sate kambing?" Ucap William dengan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih.
"Iya... Sate kambing di warung sate Pak Ujang..." Ucap Rania memperjelas ucapannya.
"William... Ayo bangun..." Rania mengguncang tubuh William.
Dengan rasa kantuk yang masih mendera, William pun dengan susah payah bangkit dari pembaringan. "Kau sungguh benar-benar ingin sate kambing?" Tanya William saat melihat jam yang menggantung di kamar mereka sudah menunjukkan pukul setengah satu malam.
Rania mengangguk. "Aku hanya menginginkannya sedikit. Tapi anakmu sangat menginginkannya. Bahkan aroma sate Pak Ujang sampai terbawa ke dalam mimpiku." Curhat Rania tentang mimpinya.
William membungkuk. Mendekatkan bibirnya ke perut istrinya. "Apa anak Daddy ingin sate Kakek Ujang?" Bisik William di perut istrinya.
"Iya... Daddy..." Balas Rania menirukan suara anak kecil.
"Baiklah. Daddy akan membelikannya untukmu." Ucap William dengan mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. William pun segera turun dari ranjang. "Tunggulah sebentar. Aku akan membelikannya untukmu dan anak kita." Ucap William pada Rania.
"Tapi William... Aku ingin ikut..." Pinta Rania dengan wajah memelas.
***
Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌
Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺
- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)