Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kenapa tidak aku saja


Mama Riana terus menenangkan Kyara yang masih terus menyalahkan dirinya. Isak tangis di depan ruangan Gerry itu terdengar memilukan. Kyara terus menatap pada pintu ICU yang masih tertutup rapat. Ingin sekali rasanya Kyara menerobos masuk untuk melihat keadaan suaminya itu.


"Bagaimana Mama bisa tahu jika Gerry dan Kya mengalami kecelakaan?" Tanya Kyara disela tangisannya.


"Jimmy menghubungi Papa mengabari kejadian yang menimpa kalian. Mama begitu panik saat mendengarnya. Hingga kami memutuskan untuk langsung berangkat ke sini menggunakan helikopter agar cepat sampai. Untung saja di dekat rumah sakit ini ada lapangan yang cukup luas untuk mendarat." Jelas Mama Riana.


"Mama sudah menghubungi nomormu dan Gerry. Namun tak mendapat jawaban." Lanjutnya kemudian.


"Ponsel Kya dan Gerry tertinggal di dalam mobil." Lirih Kyara. Ia bahkan melupakan ponselnya itu. Dan—


"Rey..." Kyara tersentak ketika mengingat bayi mungilnya. Ia bahkan melupakan bayi mungil itu karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah Gerry.


"Apa kau belum menghubungi Rania?" Tebak Mama Riana.


Kyara menggeleng. "Mama..." Kyara merasa begitu khawatir dengan keadaan putranya dan sahabatnya. Pasti saat ini Rania begitu mengkhawatirkan dirinya.


"Tenanglah... Jimmy pasti sudah menghubungi Rania setelah dia menelepon Papa." Mama Riana mengelus pundak Kyara.


Kyara sedikit menghela nafas lega. Untung saja ia sudah menyiapkan ASI cadangan untuk Baby Rey di dalam freezer.


"Sebaiknya kau istirahatlah. Keadaanmu juga tidak baik saat ini." Mama Riana mencoba kembali merayu Kyara agar wanita itu mau mengistirahatkan tubuhnya.


"Kyara baik-baik saja. Kya ingin menunggu Gerry di sini, Ma." Tolaknya menatap lurus ke depan.


Mama Riana hanya bisa pasrah dengan sikap keras menantunya. Ia sangat memahami keadaan Kyara saat ini yang sangat mengkhawatirkan suaminya. Begitu pula dengan dirinya yang tak kalah khawatir dengan keadaan putra sematawayangnya itu. Kedua wanita itu pun larut dalam tangisannya masing-masing. Sedangkan Papa Johan dan Kakek Surya beranjak untuk mengurus administrasi Gerry.


Hingga saat dokter yang menangani Gerry pun keluar dari dalam ruangan. Mama Riana dan Kyara pun sontak berdiri.


"Pasien sudah bisa ditemui. Namun hanya satu orang saja yang bisa menemuinya."


Kyara dan Mama Riana saling pandang.


"Masuklah. Mama akan menunggu di sini."


"Apa tak apa?" Kyara merasa sungkan.


"Tak masalah. Mama akan mendoakan Gerry dari sini." Lirihnya. Mama Riana sangat memahami Kyara sudah sangat ingin menemui suaminya sedari tadi.


Kyara memeluk Mama Riana barang sejenak. "Terimakasih, Mama."


*


"Gerry..." Lirih Kyara menjatuhkan tubuhnya di kursi samping ranjang.


"Kenapa tidak aku saja yang mengalami ini semua... Kenapa kau harus mengorbankan dirimu demi wanita sepertiku..." Kyara tak bisa lagi menahan isak tangisnya. Wanita itu menangis tersedu-sedu mengeluarkan sesak di dadanya.


"Ku mohon bertahanlah..." Pintanya menghiba menggenggan erat tangan yang sering ia tolak untuk menggenggamnya.


"Tuhan... Kenapa harus suamiku... Kenapa tidak aku saja..." Tangis Kyara semakin pecah. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain menangisi keadaan suaminya dan menyalahkan dirinya sendiri.


"Mama..." Kyara keluar dari ruangan Gerry dengan deraian air mata.


Mama Riana menyambut tubuh menantunya yang lemah. "Gerry anak yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja." Mama Riana mengelus punggung Kyara yang naik turun.


"Besok Gerry akan dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta untuk melakukan operasi. Berdoalah agar semuanya berjalan lancar." Lanjutnya kemudian.


**


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺


Ehm, lanjut? Banyakin komennya, yah:)