
Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian pingsannya Kyara di perusahan. Sejak kejadian itu hubungan Kyara dan William mulai terjalin semakin dekat walau Kyara selalu berusaha menjauhinya. Ada-ada saja hal yang dilakukan William untuk mencari cara agar bisa berdekatan dengannya.
Seperti saat ini, Kyara yang sedang membereskan barang-barang di pantry terlonjak kaget karena kedatangan William secara tiba-tiba.
"Hai, Ara... Apa kabarmu hari ini?" Ucap William basa-basi. Kini tubuhnya sudah duduk di kursi dekat Kyara.
Kyara menghela nafas. Hampir setiap berkunjung ke perusahaan Gerry, William selalu menanyakan hal yang sama. "Saya baik, Pak..." Jawab Kyara sekenanya.
"Aku tahu kau sedang baik-baik saja. Terlihat dari wajahmu yang cerah dan memancarkan kedamaian." Goda William mengedipkan sebelah matanya.
Kyara lagi-lagi mendengus mendengarkan ocehan receh William. Namun ada kesenangan tersendiri di hatinya dengan adanya William di setiap harinya untuk menghilangkan rasa sesak di dada mengingat kehidupan rumah tangganya yang begitu buruk.
"Apa bapak tidak memiliki pekerjaan lain selain menggoda Kyara?" Tanya Nisa yang ikut jengah melihat tingkah William. Walau pun sedikit banyaknya ia terpesona pada bule di hadapannya ini.
"Tentu saja ada. Dan menggoda Ara termasuk salah satu pekerjaan saya!" Kelakarnya.
Nisa mendengus mendengar jawaban William yang terdengar begitu menyebalkan. "Sebaiknya bapak keluar dari ruangan ini sebelum Pak Gerry datang dan menarik paksa Bapak dari sini." Usir Nisa halus. Bukannya tidak sopan Nisa berbicara seperti itu pada William. Hanya saja William memang membawa dirinya sebagai teman pada Kyara dan Nisa jika sedang berada di dalam pantry.
Kyara mengangguk membenarkan ucapan Nisa. Dan bukan itu saja. Adanya William di dekatnya selalu membuat Gerry naik darah dan melampiaskan emosinya pada tubuh istrinya itu.
"Baiklah, aku akan keluar sekarang. Ara..." Melirik ke arah Kyara yang masih fokus mengelap meja. "Tolong buatkan teh hangat untukku dan antarkan ke ruangan Bapak Gerry." Perintahnya.
William pun keluar dari dalam pantry.
"Apa kau benar-benar tidak menyukai Pak William, Kya? Dia sepertinya benar-benar suka padamu. Bahkan dia selalu memberikan perhatian lebih padamu. Apa kau tidak luluh dengan sikapnya itu?" Selidik Nisa.
"Tidak." Jawab Kyara apa adanya. Ia juga sadar akan statusnya sebagai istri yang harus pandai menjaga hatinya pada orang lain.
Sedangkan di dalam ruangan Gerry, William nampak menarik rambutnya frustasi. Sudah berbagai cara ia lakukan agar Kyara tertarik padanya. Namun wanita itu nampaknya tidak pernah merespon sikapnya selama ini. Waktunya untuk membawa calon istrinya pada orang tuanya hanya tinggal satu bulan lagi. William bertekat akan sekuat tenaga untuk meraih hati Kyara. William sadar, jika Kyara tidak sama dengan wanita-wanita lain di luar sana yang langsung terpikat karena hartanya.
"Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu, Ara." Yakin William.
Ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan William. Wajah Kyara nampak menyembul setelah ia mempersilahkan wanita itu untuk masuk.
"Ini tehnya, Pak..." Ucap Kyara sambil meletakkan satu cangkir teh hangat di atas meja di hadapan William.
"Terimakasih, Ara..." Ucap William tersenyum.
Kyara mengangguk dan membalas senyuman William. Kyara yang hendak berlalu dari tempatnya seketika terhenti ketika William mencekal tangannya. Sontak Kyara berbalik ke arah William sehingga tubuhnya kini bertabrakan dengan dada William. Kejadian itu pun terjadi dengan bersamaan Gerry yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
***