Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Isi hati Gerry


Suasana di meja persegi empat itu nampak canggung oleh dua orang yang kini tengah menatap satu sama lain. Kyara menaikkan pergelangan tangannya guna melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aku tidak bisa meninggalkan Rey terlalu lama atau dia akan menangis." Ucap Kyara memecahkan keheningan diantara mereka.


Ucapan Kyara akhirnya membuat Gerry tersadar dalam pemikirannya yang masih memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan.


"Kyara..." Panggil Gerry lirih. Kegugupan melanda tubuhnya saat ini. Demi apa pun itu, ia tidak pernah segugup ini saat berhadapan dengan orang lain termasuk lawan bisnisnya.


"Ya?" Ucap Kyara menatap dalam kedua bola mata Gerry.


Dan sialnya tatapan teduh Kyara kembali membuat tubuh Gerry menegang. Dengan menarik nafas panjang akhirnya Gerry memberanikan diri untuk mengungkapkan niatnya.


"Mungkin saat ini sudah terlambat jika aku mengutarakan apa yang ada di hatiku sedari dulu padamu, Kyara. Aku akui jika aku adalah pria yang sangat payah dalam urusan hati. Namun beberapa bulan belakangan ini aku sadar jika hatiku sudah sejak lama menaruh rasa kepadamu."


Deg


"Aku selalu menyangkal ucapan Kakek yang selalu mengatakan jika tidak membutuhkan waktu lama untuk menyayangimu. Hatiku yang terlalu buta oleh perasaan cinta tabu pada Ketty membuat aku selalu percaya jika hanya dialah pengisi relung hatiku. Setelah banyak kejadian yang kita lewati, lambat laun aku mulai sadar jika sejak lama aku bukanlah mencintai Ketty namun hanya perasaan balas budi dan kasihan kepadanya."


"Saat dia mengkhianatiku bahkan berniat buruk pada Kakek, hatiku tidak terlalu sakit akan pengkhianatannya. Namun saat kau benar-benar hilang dari hidupku, aku menyadari jika ada ruang kosong yang hilang dari hidupku. Setiap hari aku selalu memahami isi hatiku walau selalu aku coba untuk menyangkal kebenarannya. Dan sekarang aku benar-benar yakin jika aku mencintaimu. Bukan karna kehadiran Rey, karna jauh sebelum aku mengetahui kehadiran Rey di rahimmu, aku sudah jatuh hati kepadamu, Kyara."


Gerry beranjak dari kursinya. Melangkah ke arah Kyara yang kini sudah berkaca-kaca. Tangannya dengan pasti terulur mengambil tangan wanita itu dan menggenggamnya.


"Aku tahu aku bukanlah pria yang baik untukmu. Dan mungkin semua kesalahanku akan sulit dilupakan dan termaafkan. Namun aku mohon untuk satu kesempatan agar aku bisa mengambil hatimu dan memperjuangkan rumah tangga kita. Aku mencintaimu, Kyara. Sungguh mencintaimu."


"A—"


"Kau tidak perlu menjawabnya untuk saat ini. Aku akan selalu menunggu sampai kau benar-benar menerima kehadiran dan cintaku." Gerry mengusap air mata yang mengalir di pipi Kyara dengan ibu jarinya.


"Maaf sudah begitu dalam menoreh luka di hatimu selama ini. Dan untuk saat ini izinkan aku untuk memenangkan hatimu. Aku mohon untuk sejenak mengurungkan niatmu untuk berpisah denganku. Aku sungguh tak sangguh kehilangan dua orang yang berarti dalam hidupku untuk sekali lagi. Namun jika kesempatan itu benar-benar tidak merubah keputusanmu, aku ikhlas jika kau menginginkan berpisah sebagai tahap terakhir hubungan rumah tangga kita."


"Berikan aku waktu untuk berpikir. Berikan aku waktu untuk memahami keadaan ini. Ini semua sangat sulit bagiku. Dan jujur saja aku masih sangat takut apabila pernikahan ini terus berlanjut."


***


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺