Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tanpa sadar memujinya


"Terimakasih. Besok pagi saya akan datang menemui Tuan Jame." Balas Bianca menerima uluran tangan Hugo.


"Kalau begitu saya pamit dulu." Pamit Hugo yang diangguki oleh Banca.


Bianca pun melepas kepergian Hugo dengan senyuman manis di kedua sudut bibirnya.


"Merry... Kau dengar itu? Tuan James menerima tawaran kerja sama kita." Ucap Bianca begitu senang.


Merry pun turut tersenyum melihat kebahagiaan Bianca. "Selamat, Nona. Saya sudah yakin jika Tuan James pasti bukanlah pria yang buruk." Ucap Merry.


Senyuman di wajah Bianca pun perlahan luntur. "Kau menyinggungku, ya?" Tanya Bianca.


"Agh, maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud." Merry merutuki kebodohannya yang asal bicara.


"Tak masalah. Lagi pula ucapanmu benar." Balas Bianca kembali tersenyum walau pun ia merasa tersindir karena selalu mengumpati sikap James.


*


Keesokan harinya Bianca pun telah berada di depan gedung perusahaan James.


"Dia pria yang hebat." Puji Bianca menatap bangunan di depannya yang menjadi saksi hasil kerja keras James selama ini.


Bianca berdecak. Lalu kembali melangkah masuk ke dalam gedung perusahaan. Karena sudah membuat janji sebelumnya, akhirnya Bianca pun dengan mudahnya bisa langsung bertemu dengan James.


Ceklek


"Kau sudah datang?" Tanya James saat pintu ruangan terbuka dan menampilkan wajah Bianca di sana.


"Ya. Saya baru saja datang, Tuan. Apa Tuan sudah lama menunggu?" Tanya Bianca.


"Tidak. Saya bahkan baru mau menghubungimu menanyakan apakah kau jadi datang atau tidak." Balas James dengan nada bicara lembut tidak seperti biasanya. Bahkan wajahnya yang datar itu nampak tersenyum


Apa dia sedang kesurupan? Kenapa sikapnya aneh sekali. Bianca hanya bisa membatin. Lalu berjalan mendekat ke arah meja James.


"Duduklah." Ucap James yang diangguki oleh Bianca.


"Tidak perlu berlebihan. Kau memang pantas mendapatkannya." Balas James.


Bianca tersenyum. Sepertinya di benar-benar kesurupan. Bianca kembali membatin.


"Bacalah. Di dalam surat ini sudah tertera keuntungan kedua belah pihak dalam kerja sama ini. Jika ada yang tidak kau pahami kau bisa mempertanyakannya saat ini." Ucap James.


Bianca menerimanya lalu membacanya. Beberapa saat kemudian kedua bola matanya membola sempurna melihat banyaknya keuntungan yang ia dapatkan dalam kerja sama mereka kali ini.


"Setiap bulan kau hanya wajib membuatkan setelan pakaian kerja untukku dan Hugo seperti biasanya. Tidak berat bukan?" Tanya James dengan nada menyindir.


Senyum di wajah Bianca seketika luntur.


Tidak berat bagaimana jika aku hanya diberi kesempatan mengerjakannya selama tiga hari. Gerutu Bianca dalam hati.


"Untuk kedepannya aku akan memberikanmu waktu lebih lama untuk mengerjakannya." Ucap James seolah tahu isi pemikiran Bianca.


Bianca kembali tersenyum. Syukurlah. Ternyata dia masih waras. Batin Bianca merasa lega.


"Sekali lagi saya ucapkan terimakasih atas kebaikan anda, Tuan." ucap Bianca.


"Ya. Untuk sekarang hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga kerja sama ini tidak mengecewakan." Ucap James.


"Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan." Tekad Bianca.


"Saya percaya itu. Kau memang wanita yang bisa diandalkan." Ucap James tanpa sadar memuji kehebatan wanita di depannya.


Bianca dibuat tergegun mendengar ucapan James yang terdengar tulus dan lembut di telinganya.


"Tuan terlalu berlebihan. Saya melakukannya sesuai dengan kemampuan saya." Balas Bianca. Pembicaraan mereka pun terus berlangsung dengan rasa kebingungan di benak Bianca atas perubahan sikap James saat ini.


***