Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Harapan yang belum terwujud


Setelah terlalu lama menggerutu akan tingkah James, Bianca pun segera beranjak dari sofa yang didudukinya.


"Nona Bianca, anda ingin kemana?" Tanya Merry melihat Bianca melangkah menuju pintu keluar.


"Kau tidak lupa kan Merry, jika saya belum mengukur tubuh Tuan James."


Merry menepuk keningnya. "Apa anda ingin menyusulnya ke perusahaan?" Tanya Merry.


"Tentu saja. Memangnya saya pernah mengukur tubuhnya di butik?" Bianca dibuat bertambah geram mengingat banyaknya tingkah menyebalkan James.


"Apa saya perlu ikut Nona?" tawar Merry.


"Tidak perlu, Merry. Saya bisa mengerjakannya sendiri dan akan segera kembali." Balas Bianca yang diangguki Merry dengan paham.


*


Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Bianca sudah berangkat menuju butiknya tanpa menunggu Cilla dan Calvin bangun dari tidurnya. Bianca hanya menitipkan pesan pada asisten rumah tangganya untuk memberitahu Cilla dan Calvin jika ia sudah berangkat bekerja. Saat sampai di butiknya, Bianca pun mulai disibukkan menyiapkan bahan-bahan yang digunakan untuk menjahit pakaian kerja untuk Tuan James.


"Dia benar-benar sudah gila. Kemarin saja aku sudah dibuat pusing hanya untuk mengukur tubuhnya saja. Sekarang aku harus kembali dibuat pusing untuk memikirkan cara membuat pakaian kerja untuknya hanya dalam waktu tiga hari." Lidah Bianca berdecak. Namun wanita itu tak menghentikan kegiatannya memotong bahan pakaian.


"Apa anda sudah sarapan Nona?" Kepala Merry nampak menyembul di sela pintu yang terbuka.


"Astaga Merry... kau membuatku terkejut saja!" Gerutu Bianca.


"Maafkan saya, Nona. Tapi saya sudah mengetuk pintu beberapa kali namun Nona tak menyahutnya." Jelas Merry. "Apa anda sudah sarapan, Nona?" Tanyanya lagi.


"Belum. Aku bahkan tidak sempat memikirkan nasib perutku karena sibuk memikirkan cara untuk membunuh pria itu." Geram Bianca tertuju pada Tuan James.


Merry melipat bibirnya. "Baiklah. Kalau begitu saya pamit dulu dan akan kembali sebentar lagi untuk membawakan sarapan untuk Nona." Ucap Merry yang diangguki oleh Bianca.


"Terimakasih, Merry." Ucap Bianca sebelum Merry kembali menutup pintu ruangannya.


*


Berbeda dengan Bianca yang dibuat pusing dengan tugas yang diberikan James, di sebuah perusahaan yang cukup berpengaruh di kotanya, seorang pria tampan yang menjadi dalang kesibukan Bianca nampak tersenyum penuh maksud pada pria di depannya.


"Apa kau berpikir jika aku terlalu berlebihan pada wanita itu?" Tanya James pada Hugo.


"Saya pikir begitu, Tuan. Sepertinya Nona Bianca akan sedikit kesulitan membuat baju untuk Tuan dalam waktu yang singkat." Balas Hugo dengan jujur.


"Baguslah. Jika dia semakin merasa kesulitan, maka dia akan semakin memikirkanku." James tertawa sinis.


"Kenapa Tuan tidak berterus terang saja kepadanya dari pada bersikap seperti ini?" Tanya Hugo memasang wajah bingung.


"Jika saya berterus terang padanya, belum tentu yang saya harapkan akan terwujud. Kau tahu sendiri dia wanita seperti apa bukan? Dia terlalu mencintai pria itu dan dengan bodohnya mengorbankan segala kebahagiannya." Wajah James yang awalnya tersenyum berubah geram.


"Jika anda berkata jujur jika anda adalah pria yang pernah menolongnya saat kejadian naas yang hampir saja menimpanya beberapa tahun yang lalu, mungkin saja Nona Bianca akan sangat berterimakasih pada anda dan akan menganggap anda sebagai dewa penolongnya dan mulai tertarik denga anda." Saran Hugo.


"Kau jangan berkata bodoh, Hugo. Walau pun dia tahu jika saya adalah penyelamatnya waktu itu, belum tentu dia akan tertarik pada saya. Karena sampai saat ini saya yakin dia tidak akan semudah itu menghapus perasaannya pada pria berhati batu itu."


***


Komen, vote dan like dulu ya baru lanjut😌


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)