
Ketakutan Rania tidak berjalan seperti yang ada di dalam pemikirannya. Karena setelah William kembali ke dalam kamarnya, pria itu justru langsung tertidur di sebelahnya tanpa melakukan apa-apa. Rania dapat mendengar dengkuran halus yang mulai ke luar di bibir tebal suaminya itu. Sepertinya William benar-benar lelah hari ini.
Pagi pun mulai menyambut. Rania terbangun dari tidurnya saat mendengar suara alarm yang sudah biasa ia stel di setiap jam 4 pagi. Semenjak kembali ke kampung halamannya Rania memang terbangun lebih pagi dari biasanya untuk menyiapkan bahan-bahan jualannya di siang hari.
Rania menurunkan selimut yang menutupi wajahnya. Pandangannya tertuju pada sosok yang kini masih pulas tertidur di sampingnya. William masih terlihat nyaman dalam tidurnya. Padahal Rania merasa awas jika pria itu tidak akan nyaman di ranjang barunya yang hanya berukuran 160 meter itu dan kasurnya pun pastilah tidak seempuk kasur yang biasa pria itu gunakan untuk tidur.
Dengan hati-hati Rania pun turun dari tempat tidur. Mendengar suara keributan yang berasal dari arah dapur, Rania dapat menebak jika Ibunya pun saat ini sudah terbangun dan sedang mempersiapkan bahan-bahan masakan untuk sarapan pagi mereka.
"Kau sudah bangun, Rania?" Tanya Ibu yang sedang memotong sayur.
Rania mengangguk kemudian mendekat pada ibunya.
"Cepat sekali... Kau tidak seperti pengantin baru pada umumnya." Seru Bu Mela dengan sedikit menahan senyumannya.
"Memangnya pengantin baru itu harusnya seperti apa, Ibu?" Tanya Rania menyipitkan mata pada Ibunya.
"Entahlah. Apa kau tidak pernah melihat dan mengetahui tingkah pengantin baru pada umumnya?"
Rania pun berpikir sejenak dan kemudian paham arah pembicaraan ibunya. "Ibu... Apa saat ini ibu sedang berpikiran yang tidak-tidak?" Seru Rani seraya menggeleng.
Bu Mela tertawa. "Sudahlah... Ayo bantu Ibu membersihkan bawangnya. Ibu ingin ke kamar mandi sebentar." Ucap Bu Mela.
Rania mengangguk dan mulai mengerjakan perintah ibunya.
*
"Kau sudah bangun? Tanya Rania yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan mendapatkan William yang sedang memainkan ponselnya di atas ranjang.
"Sudah... Kau dari mana saja?" Tanya William kembali.
Rania sejenak tertegun melihat rambut William yang terlihat acak-acakan namun tidak menyurutkan ketampanan pria bule itu. "Aku baru saja membantu ibu memasak. Apa kau ingin mandi? Kebetulan saat ini kamar mandi sedang kosong." Ucap Rania berupaya bersikap biasa saja.
William mengangguk. "Apa kau memiliki handuk yang bisa aku pakai?"
William menerimanya. "Terimakasih." Ucap William kemudian mengambil pakaiannya yang ada di atas ranjang.
Rania mengangguk. Kemudian mulai merapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan.
"Rania..." Ucap William yang mengurungkan niatnya untuk ke kamar mandi lebih dulu.
Rania berbalik menatap pada William yang berada di ambang pintu. "Ada apa?" Tanyanya.
"Siang ini aku akan membawamu ikut denganku ke Jakarta. Aku tidak bisa terlalu lama berada di sini karena besok aku sudah harus bekerja kembali. Besok pagi adalah hari pertemuan penting di perusahaan dengan para dewan direksi. Dan aku harus menghadirinya sebagai pimpinan yang baru di sana." Jelas William.
Rania menghela nafasnya. "Baiklah. Aku akan ikut denganmu." Ucap Rania tanpa beban. Karena sebelumnya ia sudah sempat mendengar jika besok William akan mulai sibuk bekerja di perusahaannya sebagai pimpinan tetap di sana.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...