Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Melanggar Janji


Hingga beberapa menit berlalu, Rania pun nampak mulai terlihat menutup matanya lalu membukanya kembali. William yang masih berada di samping istrinya itu hanya diam menanti pergerakan Rania. Dan tak selang beberapa lama akhirnya Rania pun sudah tak dapat menahan rasa kantuknya hingga kedua kelopak matanya pun tertutup sempurna.


"Apa Rania sudah tidur?" Tanya Kyara menatap wajah Rania yang tertidur dari kaca spion.


William mengangguk. "Semenjak hamil dia memang paling tidak tahan dengan angin dan udara dingin. Karena dia akan mudah sekali tertidur jika dalam keadaan seperti saat ini." William berkata sedikit pelan agar tak mengganggu tidur istrinya.


Dari bangku depan Kyara nampak mengangguk sambil menepuk bokong Baby Rey yang sudah nampak tertidur.


"Maaf sudah melanggar perintahmu. Namun aku tidak akan tega melihat kau tidak nyaman tidur seperti ini." Gumam William lalu dengan hati-hati membaringkan tubuh Rania agar tertidur di pangkuannya.


"Tidur yang nyenyak istriku..." Lirih William begitu pelan sambil mengelus perut Rania yang sudah terlihat membuncit.


Seolah tak merasa terganggu dengan aktivitas William, Rania justru semakin menelusupkan wajahnya di perut William sambil memeluk pinggang William layaknya sebuah guling.


William menarik kedua sudut bibirnya. Setidaknya di dalam mimpi Rania, wanita itu masih melakukan hal yang biasa mereja lakukan sebelum ujian itu datang.


"Hua..." Suara tangisan Baby Rey yang cukup nyaring dari bangku depan berhasil membuat Rania yang masih terlelap dalam tidurnya itu terjaga.


Rania menatap heran pada pandangan pertamanya yang menampakkan baju seorang pria dan saat ini ia merasa tengah berada di pangkuan seseorang. Kesadaran Rania mulai terkumpul. Beberapa saat kemudian ia pun tersadar jika saat ini tengah berada di pangkuan William.


"Kau sudah bangun?" Tanya William yang juga baru terjaga dalam tidurnya saat mendengar tangisan Baby Rey.


Rania mengangguk. Mendongakkan kepalanya lalu menatap wajah William yang sedang menunduk menatapnya. Tanpa mengucapkan satu kata pun, Rania segera kembali pada posisi duduk sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


Kruk


Suara bunyi perut Rania yang terdengar cukup keras membuat William menatap intens pada istrinya.


"Apa kau sudah lapar?" Tanya William sambil menatap dalam kedua bola mata Rania.


Dengan malu-malu Rania pun mengangguk. "Aku ingin makan." Ucapnya mengungkapkan keinginannya.


"Tunggulah sebentar. Sekitar lima menit lagi kita akan sampai di rumah makan." Ucap Gerry yang mendengarkan percakapan Rania dan William. "Lagi pula sepertinya Rey sudah mulai gelisah berada di dalam mobil." Tambah Gerry.


Setengah jam menghabiskan waktu di rumah makan, mereka pun kembali melanjutkan perjalan. Hingga Enam jam berlalu, akhirnya mobil pun telah sampai di kota kecil yang menjadi tempat tumbuh kembangya seorang wanita cantik bernama Rania.


"Kita ke warung bakso milikku dulu saja." Ucap Rania pada William yang kini sedang menyetir di sampingnya.


"Kenapa tidak langsung ke rumah Ibu dan Ayah saja?" Ucap William merasa heran.


"Aku tidak mungkin membawa dua koper besarku ke sana. Ayah dan Ibu pasti akan bertanya-tanya saat melihatnya." Terang Rania.


William mengangguk saja. Membelokkan mobil ke arah warung bakso milik Rania.


"Lagi pula aku akan tinggal di warung baksoku nantinya." Ucap Rania kemudian.


***


Konfliknya gak berat-berat kok. Karena aku juga gak tahu sebarat apa😩


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...