
"Aku tidak mengizinkanmu untuk pergi satu minggu dengannya!" Cetus William merasa sebal kemudian membalikkan tubuhnya memunggungi Rania.
Enak saja dia ingin membawa istriku selama itu bersamanya. Apa dia pikir aku tidak tahu niat buruknya ingin berlama-lama berduaan dengan istriku! Batin William menggerutu.
Rania membuang nafas kasar di udara. "Aku hanya pergi untuk bekerja, Will... Kenapa kau melarangku. Apa kau tidak ingin melihat aku berkembang untuk lebih maju." Ucap Rania merasa sedih.
"Aku tidak ingin kau berduaan dengannya selama itu." Sebal William mengungkapkan maksud hatinya.
Rania terhenyak. "Kami bukan hanya pergi berdua saja, Will... Kami pergi bertiga bersama Felix juga." Terang Rania menatap punggung William. Karena William masih memunggungi Rania.
"Tetap saja. Dia pasti akan memanfaatkan kesempatan untuk berduaan denganmu!" Ketusnya.
"Oh astaga..." Kepala Rania menggeleng beberapa kali. Kenapa dia terlihat sangat posesif kepadaku akhir-akhir ini? Bahkan dia sangat jauh berubah dari dulu yang sering mengabaikan keberadaanku. Batin Rania merasa heran.
"Will..." Rania memegang pergelangan tangan suaminya. "Apa kau tidak percaya padaku? Bukankah sudah aku katakan jika aku pasti bisa menjaga diriku sebagai seorang istri?" Ucap Rania dengan pelan.
William membalikkan tubuhnya. Menatap pada wajah istrinya yang terlihat sendu.
"Aku hanya pergi untuk satu minggu. Dan itu semua memang tugasku bekerja di perusahaan Wilson. Ini untuk pertama kalinya aku diajak pergi keluar kota. Apa kau tidak tahu aku sangat senang karena bisa pergi merasakan yang namanya jalan-jalan sambil bekerja." Ucapan Rania semakin terdengar sedih.
William berdecak. Kemudian kembali menatap wajah sendu istrinya yang membuatnya tidak tega. "Rania..." Mengangkat dagu Rania hingga tatapan mereka bertemu. "Pergilah... Aku tidak akan melarangmu. Namun kau ingat dengan janjimu bukan?" William menatap intens wajah istrinya.
Rania seketika melebarkan senyumannya. "Terimakasih... Aku akan selalu mengingatnya." Menatap girang pada wajah William.
Kau jangan senang dulu rubah kecil... Batin William menyeringai.
"Tapi itu semua tidak gratis..." Menarik sebelah bibirnya ke samping.
"Tidak gratis?" Kening Rania mengkerut dalam.
"Tentu saja. Tidak ada yang gratis di dunia ini, sayang..." Bisik William di telinga Rania.
*
Pandannya pun beralih pada cermin yang menampakkan tampilan tubuh polosnya di sana. "Astaga... Dia bahkan membuat tubuhku sudah seperti macan!" Amuk Rania melihat banyaknya bekas kecupan suaminya di tubuh polosnya.
Perkataan William yang mengatakan ini semua tidak gratis benar-benar membuat Rania tidak habis pikir. Jelas saja, syarat yang diajukan William untuk melayaninya sampai puas dengan dirinya yang menjadi pemimpin membuat tubuh Rania benar-benar remuk. Tiga hari belakangan Rania habiskan untuk memuaskan suaminya di atas ranjang hingga lelah. Sedangkan William, pria itu tetap teguh pada pendiriannya jika Rania memang ingin pergi bekerja ke luar kota.
"William..." Pekik Rania dengan kuat di dalam kamar mandi untuk mengeluarkan rasa kekesalannya. Namun percuma saja, karena William tidak akan mendengarkannya. Karena pria itu telah lebih dulu pergi bekerja meninggalkan Rania yang masih tertidur lelap karena ulahnya.
"Dia benar-benar gila!" Umpat Rania mengutuk suaminya. "Dasar bule mesum...!!" Pekik Rania lagi merasa kekesalannya belum usai.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^