
"Sebenarnya kita mau kemana, Pak Jimmy?" Kyara yang tiba-tiba disuruh pergi mengikuti Jimmy keluar dari perusahaan mendadak takut. Kini tangannya mencengkram erat ujung bajunya. Apalagi tidak melihat adanya Gerry diantara mereka. Membuatnya bertambah takut saja menebak-nebak apa yang akan terjadi.
"Anda akan mengetahuinya sebentar lagi, Nona." Ucap Asisten Jimmy datar.
Mobil yang dikendarai Asisten Jimmy kini memasuki perkarang hotel bintang lima yang ada di kotanya. "Anda mau membawa saya kemana Asisten Jimmy! Anda jangan macam-macam!" Tuduh Kyara ketika sudah sampai di parkiran.
"Tenanglah, Nona. Pak Gerry sudah menunggu anda di dalam." Asisten Jimmy keluar dari dalam mobil. Lalu membukakan pintu untuk Kyara. "Mari, Nona." Ajaknya.
Mendengar nama Gerry disebut membuat tubuh Kyara gemetar ketakutan. Namun ia tetap mengikuti arahan Asisten Jimmy. Setelah sampai di depan kamar yang Kyara ketahui ada Gerry di dalamnya. Setelah mempersilahkan Kyara masuk ke dalam kamar, Asisten Jimmy pun pamit undur diri.
Perlahan tubuh Kyara memasuki kamar dengan langkah pelan. Tatapannya mengedar mencari keberadaan Gerry yang tak terlihat. Bunyi gemercik air yang berasal dari dalam kamar mandi membuyarkan pencarian Kyara. Kini ia tahu jika suaminya itu tengah mandi di dalam kamar mandi.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Gerry yang keluar dengan selembar handuk melilit pinggangnya. Kyara menundukkan pandangan melihat tubuh kekar suaminya yang begitu sempurna. Tubuh yang hampir setiap malam menghangatnya tubuhnya.
Tetesan air yang berjatuhan dari rambut Gerry yang masih basah menambah ketampanannya. Gerry mendekat ke arah Kyara yang masih tertunduk di tepi ranjang.
"Kau tahu apa kesalahanmu?" Ucap Gerry pelan namun tersirat kemarah di dalamnya.
Kyara menggeleng pelan. Ia memang melupakan kejadian beberapa jam yang lalu karena ketakutannya.
"Apa kau begitu murahnya sehingga mau saja jika di peluk oleh laki-laki lain yang jelas-jelas bukan suamimu?!" Pekik Gerry.
Seketika Kyara paham akar permasalahannya. "Itu tidak seperti yang Bapak pikirkan." Lirih Kyara. "Saya tidak sengaja menabrak tubuh Pak William karena dia tiba-tiba mencekal tangan saya..." Jelasnya. Kepalanya masih setia tertunduk. Matanya sudah tergenang mendengar ucapan Gerry yang menyebutnya murahan.
"Kalau tidak murahan lalu apa, huh?!" Gerry menghempaskan tubuh Kyara ke atas ranjang. Kyara mencoba bangkit. Namun tubuh kekar Gerry lebih dulu mengimpit tubuhnya.
"Ini akibat kau sudah berani bermain api di belakangku!" Mulai melepas satu persatu kancing baju Kyara.
Kyara hanya bisa pasrah ketika tangan Gerry begitu lihat melepas satu persatu pakaian yang membungkus tubuhnya. Setelah melepas semua pakaian Kyara, Gerry pun melepas selembar handuk yang masih melingkar di tubunya hingga tubuh keduanya benar-benar polos.
Kyara hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan mencengkram erat sprai untuk menyalurkan rasa sakitnya ketika Gerry sudah berhasil menyatukan tubuh mereka. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Gerry selalu melakukan penyatuan mereka dengan kasar tanpa ada kelembutan sama sekali.
Gerry tetap memacu tubuhnya dan terus menambah ritme permainannya. Hanya dengan cara seperti ini ia bisa menghilangkan rasa emosinya melihat miliknya disentuh orang lain. "Ini akibatnya jika kau berani membuat aku marah!" Ucap Gerry diakhir pergumulan mereka.
*
Bagusnya Gerry kita beri pelajaran apa?