
"Sekali lagi maafkan aku." Ucap Calvin lalu kembali memeluk tubuh Bianca.
"Aku juga bersalah. Karena aku tanpa sadar bersentuhan dengan pria yang bukan suamiku." Balas Bianca.
Calvin melerai pelukannya lalu menatap intens pada wajah cantik istrinya. "Mulai saat ini kau harus menyadari jika tubuhmu ini adalah milikku. Dan aku tidak akan pernah rela jika apa yang sudah menjadi milikku disentuh oleh orang lain." Ucap Calvin dengan lembut namun penuh penegasan di setiap kata-katanya.
Bianca mengangguk paham. "Mulai saat ini aku akan berusaha menjaga diriku dengan baik."
"Kau memang harus melakukannya." Ucap Calvin dengan tegas.
Bianca kembali mengangguk mengiyakan ucapan suaminya. Hatinya benar-benar berbunga-bunga saat ini melihat perlakuan hangat dan posesif Calvin kepadanya.
"Calvin, aku harus kembali ke butik. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan dengan Merry siang ini." Ucap Bianca saat melihat jam gantung di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Aku tidak mengizinkanmu untuk kembali ke butik siang ini. Istirahatlah di rumah dan jangan kemana-mana." Titah Calvin dengan wajah kembali dingin.
"Tapi—"
"Istirahat di rumah siang ini atau kau tidak boleh lagi bekerja di butik selama hamil." Ucap Calvin memberikan pilihan pada istrinya.
Bianca dibuat terdiam. Jika seperti ini ia mana berani melawan titah suami datar dan kakunya itu.
"Tapi bagaimana dengan mobilku?" Tanya Bianca mengingat mobilnya masih terparkir di restauran saat ini.
"Kemarikan kunci mobilmu." Ucap Calvin sambil mengulurkan tangan pada Bianca.
Bianca pun segera merogoh kunci mobilnya dari dalam tas sandangnya lalu memberikannya pada Calvin.
"Aku kembali ke perusahaan dulu. Hari ini aku akan pulang lama karena banyak pekerjaan di kantor yang harus aku selesaikan." Pamit Calvin.
Bianca hanya bisa mengangguk. Padahal ia juga memiliki pekerjaan di butiknya saat ini. Ingin sekali ia mengatakan hal yang sama, Namun mana berania ia melawan ucapan dari suami datar dan dinginnya itu. Dan alhasil Bianca hanya bisa merutuk dalam hati.
*
Hoek
Hoek
Bianca kembali memuntahkan isi perutnya untuk kesekian kalinya.
"Bianca..." ucap Calvin lalu berjalan mendekat ke arah istrinya. Tangan Calvin pun terulur memijat tengkuk istrinya.
Hoek
Bianca terus mengeluarkan isi perutnya yang terasa diaduk-aduk.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Calvin merasa cemas melihat kondisi istrinya.
Bianca menggeleng. Lalu detik berikutnya kembali mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya. Setelah merasa rasa mualnya sudah berkurang, Bianca pun membasuh wajahnya.
Calvin yang berdiri di belakang Bianca pun menatap pada wajah Bianca yang nampak pucat dari pantulan kaca.
"Bianca... kau pucat sekali..." wajah datar Calvin nampak cemas. Calvin pun membalikkan tubuh Bianca agar dapat melihat dengan jelas wajah istrinya.
"Aku lemas sekali..." Lirih Bianca sambil mencengkram erat pinggang Calvin.
"Bianca..." Calvin yang dibuat semakin cemas pun tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh Bianca dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi lalu melangkah menuju ranjang.
Dengan hati-hati Calvin menurunkan Bianca ke atas ranjang.
"Apa sering seperti ini?" Tanya Calvin sambil mengelap pelipis Bianca yang nampak basah oleh keringat.
***
Silahkan mampir di novel aku yang baru. Bukan Sekedar Menikahi. Terimakasih😉