Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Harapan yang terwujud


"Merry... apa ini mungkin?" Bianca menatap dua buah alat tes kehamilan di depannya dengan ragu. "Aku rasa dugaanmu salah karena aku dan Calvin—" Bianca tak lagi melanjutkan ucapannya karena tidak mungkin ia mengatakan perihal rumah tangganya pada Merry.


"Tidak ada salahnya untuk mencobanya, Nona." ucap Merry meyakinkan Bianca lagi.


Bianca menghela nafasnya. Melihat asistennya yang begitu antusias bahkan dengan rela membeli alat tes kehamilan untuknya di tengah hari yang terik membuatnya tak ingin mengecewakan keinginan Merry.


"Baiklah. Aku akan mencobanya." Putus Bianca lalu mengambil kedua alat tes kehamilan itu dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Lima belas menit menunggu di depan kamar mandi, Merry nampak berjalan mondar-mandir menunggu Bianca keluar dari dalam kamar mandi.


"Nona Bianca... kenapa anda lama sekali?" Lidah Merry berdecak. Merasa tidak sabar menantikan hasil tes kehamilan bosnya.


Ceklek


Wajah Bianca nampak menyembul dari pintu yang sudah terbuka setengahnya.


"Bagaimana, Nona?" Tanya Merry sungguh tidak sabar.


Bianca membuka lebar pintu lalu keluar dari dalam kamar mandi dengan memegang kedua buah alat tes kehamilan di tangannya.


"Merry..." suara Bianca terdengar gugup.


"Nona..." Merry pun memperhatikan wajah Bianca yang nampak lesu dan sedih. Sepertinya dugaannya salah. "Ehm... Nona... maafkan saya jika sudah membuat anda berharap." Sesal Merry sambil mengatupkan kedua tangannya.


"Merry..." Bianca kembali memanggil nama asistennya.


"Iya, Nona... apa anda marah pada saya? Maafkan saya." Merry tertunduk.


"Kau lihat ini..." Bianca menyerahkan dua buah alat tes kehamilan itu pada Merry.


Dengan wajah takut Merry pun menerima. Beberapa saat kemudian suara pekikan yang cukup kuat pun mulai terdengar memenuhi ruangan Bianca.


"Merry... kau membuatku sesak." Ucap Bianca dengan pelan.


Merry buru-buru melepaskan pelukannya. "Agh, maafkan saya Nona. Saya begitu senang karena dugaan saya tepat." Ungkap Merry.


Bianca melebarkan senyumannya. Merry adalah asisten dan sahabat baginya. Wanita yang sudah beberapa tahun menemaninya itu memang selalu antusias jika itu menyangkut kebahagiaannya.


"Terimakasih, Merry." Balas Bianca lalu memeluk Merry barang sejenak.


"Mulai saat ini anda harus menjaga kandungan anda dengan baik, Nona." Ucap Merry dengan terus tersenyum.


Bianca mengangguk. "Apa tidak sebaiknya kita melakukan pengecekan di rumah sakit untuk hasil yang lebih maksimal?" Tanya Bianca.


"Anda benar, Nona. Jika Nona ingin memeriksa kandungan anda ke rumah sakit, saya siap menemani anda sekarang juga!" Seru Merry.


"Tapi saya tidak membawa mobil." Ucap Bianca.


"Kita bisa menaiki taksi saja, Nona." Saran Merry.


Bianca nampak berpikir lalu mengangguk menyetujuinya. "Baiklah. Kalau begitu ayo ikut saya." Ajak Bianca yang diangguki Merry dengan begitu semangat.


*


"Apa Calvin akan senang jika ia mengetahui aku sedang hamil anak ke dua kami?" Gumam Bianca sambil menatap cermin di depannya.


Semenjak siang kemarin Bianca dilanda keraguan untuk mengatakan kondisinya saat ini pada suaminya. Apa lagi belakangan ini Calvin terlihat sibuk dengan pekerjaannya yang membuatnya mengurungkan niatnya mengatakannya yang sebenarnya pada suaminya.


"Sebaiknya aku katakan saja. Bukankah Calvin mengatakan jika dia ingin kami memberikan adik untuk Cilla?" Bianca menguatkan tekadnya lalu keluar dari dalam kamar mandi. Namun keberuntungan tak berpihak kepadanya. Niatanya yang sudah menggebu-gebu lenyap begitu saja saat melihat Calvin sudah tertidur dengan lelap dii atas ranjang.


***