Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kritis


"Sepertinya Rey sangat senang diajak ke sini, Kya." Ucap Rania melihat Baby Rey terus tertawa menatap sekitarnya.


"Sepertinya begitu. Dia terlihat senang sekali." Balas Kyara mengelus kepala bayinya.


"Apa kau sering ke tempat ini, Kya?" Tanya Hana yang berada di samping kanannya.


Kyara menggeleng. "Hanya beberapa kali saja. Dan sepertinya ini adalah keempat kalinya aku datang ke sini." Kyara mengingat-ingat masa lalunya dengan Rania saat masih menjadi OB. "Dulu aku dan Rania lebih menyukai pergi ke tempat yang sedikit sepi untuk saling bercerita." Ucap Kyara.


"Kyara benar. Kami dulu lebih sering menghabiskan waktu di danau yang tidak terlalu jauh dari sini untuk bercerita." Timpal Rania ikut tersenyum mengingat saat mereka masih menjadi OB.


"Ohh..." Kepala Hana mengangguk beberapa kali mendengar ucapan Kyara dan Rania.


Tempat ini adalah tempat yang sering aku kunjungi dengan Dika saat kami tidak ada jam kuliah dulu. Batin Hana.


Mereka pun duduk di kursi panjang yang berada di bawah pohon.


"Anak Mama kepanasan ya, sayang?" Kyara mengeluarkan kipas kecil dari dalam tasnya saat melihat pelipis Rey mulai berkeringat.


Hana yang melihat itu pun mengeluarkan tisu di dalam tasnya kemudian mengelap keringat Baby Rey.


"Jam berapa kau akan kembali ke rumah sakit, Kya?" Rania melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam mereka menghabiskan waktu di taman.


"Sekarang sudah hampir jam sebelas." Ucap Rania kemudian.


"Cepat sekali..." Lirih Kyara. Kyara pun bangkit. "Aku harus kembali ke rumah sakit." Ucap Kyara sambil menepuk gendongan bayinya yang sedikit kotor.


"Baiklah. Ayo kita segera pulang." Ajak Rania. Rania pun mengalihkan pandangannya ada Hana. "Apa kau akan langsung pulang, Hana?" Tanyanya.


Hana mengangguk. "Ya. Aku langsung pulang saja. Karena aku ingin memasak saat sampai di apartemen nanti."


"Baiklah. Sampai bertemu lagi. Senang bisa berkenalan denganmu." Ucap Rania tulus.


Hana mengangguk. Menyematkan senyuman di sudut bibirnya. "Aku juga senang bisa berkenalan denganmu."


Dan mulai hari itu pertemanan mereka pun semakin terjalin erat karena setiap akhir pekan Hana selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke mansion Bagaskara sekedar melihat perkembangan Baby Rey.


*


"Ada apa ini?" Tanya Kyara dengan nafas naik turun. Menatap pada satu persatu anggota keluarganya yang nampak menangis di depan pintu.


"Mama... Ada apa ini?" Kyara merasa ada yang tidak beres dengan keadaan saat ini. Apa lagi setelah ia mendapatkan telepon dari Papa Johan agar cepat sampai di rumah sakit dini hari itu.


"Gerry... Gerry dia..." Mama Riana tak bisa melanjutkan ucapnnya.


"Mama tenanglah..." Papa Johan mengelus punggung Mama Riana yang bergetar.


"Ada apa dengan Gerry? Ada apa dengan suamiku?" Kyara terus mendesak orang-orang agar menjawab ucapannya.


"Keadaan Gerry kritis..." Lirih Papa Johan.


"Apa?! Bagaimana bisa Papa? Bukankah keadaan Gerry tadi baik-baik saja?" Kyara tak dapat membendung air matanya.


"Saat Papa dan Mama masuk ke dalam ruangan Gerry, kami mendapatkan tubuh Gerry sudah kejang-kejang dan selang oksigen di hidung Gerry terlepas." Ucap Papa Johan yang turut menangis.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara...


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺