
Di dalam ruangannya Gerry tersenyum-senyum sendiri melihat kotak bekal bewarna merah muda itu kini sudah berada di hadapannya. Asisten Jimmy yang melihat kelakukan tuan mudanya itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Apa Tuan hanya ingin memandangnya tanpa memakannya?" Tegur Asisten Jimmy sebelum Gerry kehilangan kewarasannya.
Gerry menghentikan aksi senyum-senyum sendirinya. Mengalihkan pandangan pada Asisten Jimmy dan menatapnya dengan tajam. "Bukan urusanmu. Sekarang keluarlah. Saya ingin memakan bekal yang dibuatkan Kyara." Usir Gerry.
Kepala Asisten Jimmy dengan cepat mengangguk.
Kenapa tidak dari tadi saja? Teriak batin Asisten Jimmy.
"Jangan mengutukku di dalam hatimu!" Sembur Gerry.
"Saya tidak mengutuk anda, Tuan." Balas Asisten Jimmy kemudian segera keluar dari dalam ruangan Gerry.
*
Sore itu Gerry pulang dari perusahaan dengan raut wajah lelahnya. Seharian ini ia habiskan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang masih terbengkalai selama ia dalam keadaan koma. Walau pun Kakek Surya sudah banyak membantu pekerjaannya, namun tetap saja beberapa investor masih tetap ingin menunggu Gerry yang mengerjakannya.
Mobil BMW bewarna hitam itu mulai memasuki perkarang mansion keluarga Bagaskara. Di depan mansion Kyara sudah nampak berdiri sambil menggendong Baby Rey. Gerry melebarkan senyumannya melihat istrinya yang begitu perhatian padanya.
"Apa pekerjaanmu hari ini sangat berat? Aku melihat kerutan lelah di wajahmu." Ucap Kyara setelah mencium tangan Gerry.
Gerry tersenyum. Memberikan ciuman di kening Kyara dan Baby Rey secara bergantian. "Tidak lagi berat jika sudah melihat wajah dua orang yang sangat aku cintai. Bahkan saat ini aku sudah tidak lelah lagi."
Kyara mendesah namun tetap tersenyum. Jelas-jelas ia dapat melihat dengan jelas wajah lelah suaminya itu. "Ya sudah. Ayo masuk. Aku ingin mengambilkan minuman untukmu." Ucap Kyara.
Kepala Gerry mengangguk. Kemudian mengambil alih Baby Rey yang berada di gendongan Kyara.
"Pa, Pa, Pa." Celoteh Baby Rey mencubit gemas pipi Papanya.
Gerry mengaduh. "Tangan mungil ini kenapa keras sekali." Gumamnya pelan. Namun tetap membiarkan tangan Baby Rey bermain di wajah tampannya.
*
Cahaya bulan dan bintang-bintang menemani indahnya malam Kyara dan Gerry yang sedang duduk di balkon kamarnya. Setelah menidurkan Baby Rey di dalam kamarnya, Gerry mengajak Kyara untuk menikmati malam sejenak di balkon kamar mereka.
Kyara menatap lurus ke depan dengan wajah sendunya setelah berbincang ringan dengan Gerry. Pemikiran Kyara melayang mengingat sejak siang tadi ada hal berat yang memenuhi pikirannya.
Gerry memiringkan tubuhnya menghadap pada Kyara. "Kenapa dengan wajahmu, sayang? Sepertinya kau sedang bersedih." Ucap Gerry membuat perhatian Kyara teralih kepadanya.
"Bukankah kau pernah berkata jika di dalam rumah tangga itu harus berbagi satu sama lain?" Ucap Gerry.
Hembusan nafas Kyara kian memelan.
"Jadi apa yang kau pikirkan saat ini?" Ucap Gerry mendekatkan kursinya pada kursi Kyara.
"Tadi siang Rania menelponku." Ucap Kyara.
"Lalu?" Sebelah alis Gerry nampak tertarik ke atas.
"Rania berkata jika ibunya benar-benar harus menjodohkannya dengan cucu sahabat mendiang Kakek Rania. Kakek Rania dan sahabatnya dulu pernah berjanji jika mereka memiliki seorang cucu laki-laki dan perempuan, maka mereka akan menjodohkan cucu mereka apabila sampai umur cucu mereka memasuki duapuluh delapan tahun dan cucu mereka tidak juga menemukan pasangan yang baik untuk mereka. Dan saat ini sahabat Kakek Rania menuntut perjanjian itu karena umur cucunya sudah memasuki duapuluh delapan tahun namun belum juga menikah." Terang Kyara.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺
.
.
.