
Setelah mendengarkan ucapan Gerry yang ada benarnya. Akhirnya sore itu William pun memilih pulang ke apartemennya setelah lebih dulu memastikan jika Rania sudah berada di apartemen.
Selama dalam perjalanan pulang, hati William benar-benar merasa resah memikirkan istrinya yang tengah sakit itu berada di sendirian di apartemen karena Rania menolak keras permintaan Kyara yang ingin menemaninya di sana.
Langkah William terdengar tergesa-gesa memasuki apartemennya. Kening William seketika mengkerut, karena saat memasuki apartemen lampu ruangan tidak hidup seperti tidak ada orang di sana. Merasakan perasaan yang tidak enak, William pun dengan buru-buru menghidupkan lampu lalu bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Ceklek
William pun masuk ke dalam kamar dengan nafas lega saat melihat sosok yang sudah dirindukannya tiga hari belakangan ini sedang terlelap nyaman di atas ranjang. William pun berjalan mendekati ranjang dengan langkah pelan karena tak ingin Rania terganggu dari tidurnya,.
Tangan William pun terulur memegang kening istrinya. "Maafkan aku..." Lirih William merasakan suhu tubuh istrinya masih panas. Apalagi melihat mata wanita itu terlihat masih bengkak membuat William semakin merasa bersalah. Dengan hati-hati William pun menaiki ranjang lalu merebahkan tubuhnya di ranjang yang masih kosong.
"Sekali lagi maafkan aku..." Ucap William lagi mengecup lama kening istrinya. Lalu kemudian membenamkan tubuh Rania ke dalam pelukannya dan ikut menyusul Rania ke alam mimpi.
Jam dinding terus beputar ke arah kanan. Setelah hampir tertidur selama tiga jam, akhirnya Rania pun nampak mengerjapkan matanya saat merasakan rasa lapar yang teramat di perutnya. Kedua bola mata Rania membelalak saat merasakan tubuhnya kini berada di dalam dekapan seseorang.
Rania hampir saja berteriak jika saja ia tidak melihat dengan jelas wajah bule yang sudah ditangisinya tiga hari belakangan ini.
"Wi-william..." Ucap Rania terbata saat melihat wajah William begitu dekat dengan wajahnya.
Merasakan pergerakan di sebelahnya, William pun membuka kedua kelopak matanya. "Kau sudah bangun?" Tanya William dengan suara serak.
Kedua mata Rania berkedip-kedip. "Kenapa kau ada di sini?" Tanya Rania berusaha melepaskan tangan William dari pinggangnya. Namun bukannya melepas, William justru mempererat pelukannya di pinggang Rania.
"Pertanyaan bodoh. Jelas saja aku ada di sini karena ini apartemenku." Sahut William.
Rania terdiam. Mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang terjadi padanya beberapa hari belakangan ini.
"Apa kau masih marah kepadaku?" Tanyanya dengan sendu.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu tanpa mendengarkan penjelasanmu." Sesal William. William pun melepaskan pelukannya dan meminta Rania untuk duduk.
"Aku..." Ucap Rania sedikit gugup saat ingin mengutarakan isi hatinya.
Rania pun menurutinya. Dengan langkah ragu Rania mengikuti langkah kaki William keluar dari dalam kamar.
"Aku ingin makan apa? Sedangkan aku belum memasak makanan untuk dimakan." Gumam Rania.
William menghentikan langkahnya saat mendengar gumaman Rania. "Aku sudah memesan makanan untuk makan malammu." Timpal William.
Rania terbelalak. "Kapan kau memesannya?" Tanyanya bingung. Jelas saja. Pria itu baru saja bangun bahkan belum sempat memegang ponselnya.
"Setengah jam yang lalu." Jawab William seadanya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...