
"Rania..." Lirih Kyara. Tubuhnya tiba-tiba bergetar ketika mendengar nama suaminya.
"Kyara..." Rania bergegas mematikan api kompornya kemudian menghampiri Kyara di westafel.
"Tenanglah..." Tuturnya. Mengelus punggung Kyara.
"Apa dia berniat mencelakai anakku, Rania?" Ucapnya dengan air mata yang sudah berlinang.
"Itu tidak mungkin, Kya... Tidak mungkin Pak Gerry tega mencelakai anak kalian." Ucap Rania menenangkan.
"Hiks..."
"Kyara... Kau tidak perlu takut... Aku yang akan menjamin jika Pak Gerry tidak akan berbuat buruk padamu..."
"Aku tidak ingin bertemu dengannya..."
"Aku tahu... Aku akan menyuruhnya untuk tidak menemuimu..."
"Aku membencinya..."
"Aku juga tahu itu... Bahkan aku juga membencinya."
Tapi semua itu berubah saat aku melihat ketulusan di mata Pak Gerry untukmu, Kya. Lanjut Rania dalam hati.
"Jauhkan dia dariku, Rania..." Pinta Kyara masjh menangis.
"Akan aku jauhkan... Tapi bagaimana dengan anakmu? Apa anakmu juga ingin berjauhan dengan ayahnya?"
"Dia bukan ayah anakku. Dia menolak kehadiran anakku di dunia ini. Dan kau tahu itu." Tekan Kyara.
"Bagaimana pun kau menolak. Namun kenyataan jika Pak Gerry adalah ayah biologis anakmu tidak akan bisa kau ubah, Kya..." Tutur Rania lembut.
"Tidak baik kau menjauhkan anakmu dengan ayahnya. Kau boleh saja membencinya. Tapi kau tidak berhak menjauhkan seorang anak dari ayahnya. Ayah kandungnya."
"Tapi dia—"
"Sudahlah, Kya... Jangan terlalu banyak pikiran. Aku yakin jika Pak Gerry tidaklah seburuk yang kau pikirkan saat ini. Percayakan kepadaku." Yakin Rania.
"Lanjut bersih-bersih ya? Biar kita cepat sarapan. Kasihan anakmu sudah kelaparan di dalam sana." Ucapnya sembari mengelus perut Kyara.
Sedangkan di depan pintu ruko kini tengah terjadi pembicaraan sengit antara Kakek dan cucunya.
"Untuk apa kau datang kemari? Bukankah kau sudah membuang istrimu untuk wanita uang kau cintai itu?" Cibir Kakek Surya menatap sengit cucunya.
Seperti biasa, Mama Riana selalu mencoba menenangkan mertuanya dengan mengelus lengan mertuanya.
"Aku sedang tidak ingin berdebat." Gerry menghela nafasnya kasar. Tameng Kyara kini sudah bertambah satu orang lagi.
"Cih. Ayo Riana, Johan. Kita masuk ke dalam." Ucap Kakek Surya yang terlihat sudah malas melihat cucunya. Namun berbeda dengan hati kecilnya yang kegirangan saat ini.
"Apa kau melihat ketulusan di wajah anakmu itu Johan?" Tanya Kakek Surya sedikit berbisik.
"Aku dapat melihatnya, Pa. Sepertinya Gerry sudah menyadari kesalahannya. Aku harap Kyara mau memaafkan kesalahannya selama ini."
"Papa juga berharap seperti itu. Namun jika Kyara menolak untuk melanjutkan pernikahan mereka, kita tidak bisa memaksanya." Kakek Surya menghela nafas berat.
"Kakek... Mama... Papa..." Kyara nampak keluar dari dalam dapur dengan memegang sebelah pinggangnya. Wanita itu mulai terlihat kesusahan berjalan dengan perutnya yang membuncit.
"Kau sedang apa di dalam sana?" Tanya Kakek Surya mengelus rambut Kyara.
"Tidak ada... Aku hanya melihat Rania merapikan peralatan di dapur." Ucapnya terkekeh.
"Maaf tidak menyambut kedatangan Kakek, Mama dan Papa di depan pintu..." Lanjutnya merasa bersalah.
"Tak apa... Kakek mengerti kau sudah mulai sulit untuk bergerak." Candanya.
Kyara tersenyum kecil.
"Ayo ke atas saja. Kita bisa mengobrol di atas supaya lebih nyaman." Ajak Kyara.
"Di sini saja... Kakek sedang malas untuk menaiki tangga..."
Kemudian mereka pun duduk di kursi yang biasa dipakai oleh para pengunjung.
***