Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku bisa menjaga batasanku


"Kau menyuruhku berhenti bekerja?" Rania nampak terkejut setelah mendengar perintah suaminya. "Kenapa kau menyuruhku untuk berhenti bekerja? Bukankah kau sendiri yang sudah mengizinkanku untu bekerja!" Protes Rania tak mengerti dengan jalan pemikiran suaminya.


"Kau boleh bekerja dimana saja asal tidak bersama Sean!" Tekan William.


"Sean adalah temanku. Dan apa salahnya jika aku dan dia bekerjasama?"


"Tidak perduli dia adalah temanmu atau tidak. Yang jelas aku benar-benar tidak mengizinkanmu bekerja dengannya!" Perintah William lagi.


"Aku tetap ingin bekerja. Kemarin kau sudah mengizinkanku untuk bekerja. Dan sekarang dengan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas kau menyuruhku untuk berhenti bekerja begitu saja!" Amuk Rania.


"Sekarang katakan alasan apa yang membuatmu menyuruhku untuk berhenti bekerja? Jika kau memiliki alasan yang masuk akal, maka aku akan mengikuti ucapanmu." Rania menatap William seakan menuntut sebuah jawaban.


William terdiam di tempatnya. Helaan nafasnya kian memburu saat melihat Rania seakan munurut namun menentang ucapannya.


"Kenapa kau diam? Jika kau berpikir jika aku tidak bisa menjaga diriku sebagai seorang istri di saat bekerja, maka kau salah besar. Karena aku masih bisa menjaga diriku sebagai seorang istri yang telah bersuami." Ucap Rania menatap dalam kedua bola mata elang suaminya.


William mendesahkan nafas kasar di udara. Mendapatkan pertanyaan dari Rania membuatnya mati kutu. William juga tidak dapat menebak perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas ia hanya tidak ingin ada laki-laki lain yang berusaha merebut Rania dari sisinya.


"Kau masih boleh bekerja asal kau bisa menjaga batasan dengan atasanmu itu! Karena aku tidak ingin jika keluarga kita sampai mengetahui kau berdekatan dengan pria lain sedangkan kau sudah menjadi istriku." Ucap William pada akhirnya. Karena tidak mungkin ia mengatakan jika ia cemburu atas kedekatan Rania dan Sean di acara makan malam tadi.


Rania tersenyum miring. Entah mengapa ia mengharapkan jawaban lain dari suaminya. "Baiklah. Aku akan melakukannya. Dan lagi pula aku masih sadar apa saja yang menjadi kewajibanku sebagai seorang istri." Balas Rania.


Keheningan pun menyelimuti perdebatan suami istri itu karena saat ini baik Rania maupun William saling menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti.


"Baiklah, jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku pamit naik ke atas. Hari ini cukup melelahkan bagiku dan aku ingin segera istirahat." Ucap Rania kemudian membalikkan tubuhnya saat melihat William sudah memberikan izin atas ucapannya.


Di dalam kamar mandi Rania menumpahkan segala sesak yang ia rasakan sejak tadi. Rania menepuk dadanya berharap agar rasa sesak itu segera hilang dari dalam dadanya. "Kenapa aku selalu berharap jika kau sudah mencintaiku sehingga kau melarangku berdekatan dengan pria lain?" Rania menghapus air mata yang sudah terjatuh di pipi mulusnya.


"Jika aku tahu jika mencintaimu akan sesakit ini, maka sudah dari lama aku akan menghapus perasaan cintaku ini kepadamu William. Namun aku bisa apa? Semakin aku berusaha melupakan rasa cintaku kepadamu, maka semakin bertambah perasaan cinta ini. Dan rasa cinta itu semakin bertambah semenjak kau sudah resmi menjadi suamiku." Lirih Rania meratapi nasibnya yang buruk.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...