Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Terpesona


"Apa Gerry sudah menghubungimu jika ia akan lembur malam ini?" Tanya Kakek Surya menimpali ucapan menantunya karna Kyara hanya diam tertunduk.


Kyara menggeleng. "Kya juga belum melihat ponsel sejak sore tadi." Jelasnya.


"Jika kau tidak berselera pada makanannya, Bibi bisa membuatkan yang baru untukmu, Kya." Tutur Mama Riana.


"Agh, tidak perlu, Ma. Kyara akan menghabiskannya." Ucap Kyara kemudian melanjutkan makannya dalam keheningan. Ia sungguh merasa sungkan.


Sedangkan di meja lain, Rania nampak menghela nafasnya melihat Kyara yang masih saja menolak kebenaran yang ada.


*


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Gerry melangkahkan kakinya dengan langkah lebar memasuki mansion. Suasana mansion malam itu terlihat sunyi. Wajar saja. Sekarang sudah memasuki waktu penduduk bumi mengistirahatkan tubuhnya dari lelahnya pekerjaan.


"Kau baru pulang, Gerry?" Ucap Kakek Surya yang baru saja keluar dari dalam lift.


"Kakek belum tidur?" Tanya Gerry tanpa menjawab pertanyaan Kakek Surya.


"Belum. Kakek belum mengantuk."


"Apa kau sudah menghubungi istrimu jika kau pulang larut hari ini?" Tanya Kakek kemudian.


Gerry menggeleng. "Aku terlalu sibuk hingga melupakannya." Desahnya. Pekerjaannya benar-benar memumpuk setelah ditinggal hampir dua bulan. Gerry bahkan melewatkan jam makan siangnya guna mempercepat menyelesaikan pekerjaannya.


"Seberat apa pun pekerjaanmu, sebaiknya kau tetap meluangkan waktu untuk menghubungi istrimu. Dia sepertinya masih menunggumu pulang hingga saat ini."


Nafas Gerry terbuang begitu saja di udara. "Baiklah. Aku ke kamar dulu." Pamitnya kemudian masuk ke dalam lift.


Kakek Surya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.


*


Klek


"Kau baru pulang?" Tanya Kyara saat Gerry sudah berada di dekatnya.


Gerry mengangguk. "Pekerjaan di kantor hari ini sangat banyak. Maaf jika aku lupa menghubungimu. Apa kau menungguku?" Tanya Gerry menjatuhkan bokongnya di samping Kyara.


"Emh... Tidak juga... Kebetulan Baby Rey terbangun dan ingin menyusu." Balasnya sedikit tergagap. Bagaimana tidak. Saat ini Kyara benar-benar merasa gugup karena berada sedekat ini dengan Gerry. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Apakah perasaan cinta ataukah rasa traumanya kembali muncul.


Gerry mendesah kecewa. Pandangan jatuh pada putranya yang masih asik menyedot dengan mata tertutup. "Aku akan membersihkan tubuh terlebih dahulu." Ucapnya kemudian bangkit. Gerry sudah sangat merindukan putranya itu dan ingin menggendongnya barang sejenak.


Pandangan Kyara mengikuti langkah Gerry menuju kamar mandi. Kyara dapat melihat guratan lelah di wajah pria yang masih berstatus suaminya itu. Tak lama Baby Rey pun sudah terlelap kembali setelah kenyang menyusu. Kyara pun meletakkan kembali Baby Rey ke dalam box bayinya. Kemudian melangkahkan kakinya menuju walk in closet untum menyiapkan pakaian rumahan untuk Gerry kenakan setelah mandi.


Klek


Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan kegiatan Kyara yang sedang meletakkan baju di atas kasur ke arah Gerry.


Deg


Jantung Kyara bekerja lebih cepat saat melihat Gerry keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya. Tetesan air yang terjatuh dari rambutnya yang masih basah membuat pesona Gerry semakin bertambah. Aroma sabun yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya pun membuat Kyara semakin menelan salivanya susah payah.


"Terimakasih. Tapi tidak perlu repot untuk menyiapkannya. Aku bisa mengambilnya sendiri. Sebaiknya kau istirahatlah selagi Rey masih tertidur." Ucap Gerry mengambil setelan baju gantinya.


*