Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Tragedi


Kaki Kyara nampak mengayun beberapa kali sembari memandang kerumunan orang di kursi yang baru saja diberikan seseorang kepadanya. Entah motif apa orang itu begitu baik padanya sehingga repot-repot memberikan kursi untuk ia duduki. Mungkin saja orang itu merasa iba kepadanya melihat perutnya yang membuncit.


Tiba-tiba saja pandangan Kyara tertuju pada seorang pria kecil yang tengah menangis sambil memegang lolipop di tangannya.


"Hei... Adik kecil... Kau kenapa?" Tanya Kyara pada anak itu.


Pria kecil itu menatap Kyara dengan genangan air mata di kedua pipi bulatnya.


"Mamah..." Tangis pria kecil itu kembali pecah sambil menunjuk ke sembarang arah.


"Mamah ilang..." Lanjutnya kemudian.


"Mamah kamu hilang?" Kening Kyara mengkerut.


Anak itu mengangguk.


"Hilang dimana?"


"Nda tahu... Huu..." Anak itu kian menangis.


Kyara yang meras iba pun menjangkau tangan mungil tersebut.


"Ayo kita cari dimana keberadaan Mamamu."


Anak itu mengangguk kecil dengan mata yang berkedip-kedip.


"Nama kamu siapa?" Tanya Kyara sambil memegang tangan anak itu mencari keberadaan orang tuanya.


"Nama aku Frans, Tante..."


"Nama yang bagus... Sudah jangan menangis lagi... Semoga Mama kamu cepat ketemu."


Kyara pun mengajak anak itu berkeliling. Kyara tidak sadar jika sedari tadi pergerakannya selalu diintai oleh dua orang laki-laki yang terus mengikutinya.


"Itu Mama Tante....!!" Ucap Frans menunjuk pada Ibunya yang berada di seberang jalan seperti sedang mencari keberadaan seseorang.


"Apa benar itu Mama kamu?" Tanya Kyara ragu.


Anak itu mengangguk. "Ayo kita ke sana, Tante..." Ucapnya seraya menarik ujung baju yang dikenakan Kyara.


Mau tidak mau Kyara pun menuruti kemauan anak kecil itu. Tubuhnya sedikit gemetar saat menyeberangi jalan raya yang cukup ramai malam itu. Akhirnya Kyara dapat menarik nafas lega saat sudah berhasil menyeberangi jalan dengan susah payah.


"Frans... Kau kemana saja, huh? Apa kau tidak tahu jika Mama mencarimu sedari tadi?" Ibu anak itu nampak menangis tersedu-sedu. Kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya yang sudah tergenang air mata.


Bukannya menjawab, Frans kecil justru menangis tersedu-sedu. Akhirnya sang ibu tak lagi menanyakan sebab anaknya bisa hilang. Ia lebih memilih menenangkan anak itu. Sepertinya Frans kecil sangat takut dimarahi.


"Apa Kakak ini yang membawamu kemari?" Tanya sang Ibu pada Kyara yang tengah menatap haru interaksi keduanya.


Frans kecil menangangguk.


"Terimakasih sudah menolong anak saya." Ucap Ibu Frans begitu tulus.


Kyara tersenyum. "Sama-sama. Lain kali Frans tidak boleh pergi tanpa memberitahu Mama, ya..." Pesan Kyara karena tadi Frans sedikit bercerita jika ia nekat meninggalkan sang Ibu karena melihat permainan yang menarik perhatiannya.


Frans hanya mengangguk kecil dengan mata yang masih merah.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Karena mungkin teman saya sudah menunggu." Pamit Kyara.


"Terimakasih, Tante." Bibir mungil Frans berucap setelah sedari tadi hanya diam.


"Sama-sama." Kyara mengelus lembut rambut Frans.


"Sekali lagi terimasih nak?"


"Kyara."


"Agh, iya. Terimakasih nak Kyara."


"Sama-sama, Bu."


Kyara pun berlalu pergi meninggalkan Ibu dan anak itu. Dan sekali lagi jantung Kyara harus berdetak lebih cepat saat melewati jalanan yang bertambah ramai dengan pengendara mobil dan motor.


Melihat kondisi yang memungkinkan untuk menyebrang, Kyara pun dengan langkah ragu melangkahkan kakinya dengan cepat. Namun belum sampai di seberang jalan, Kyara harus dikagetkan dengan suara klakson mobil yang melaju cukup kencang ke arahnya.


"Aaaa...." Pekik Kyara saat lampu jauh mobil itu sudah dekat menyorot ke arahnya.


"Kyara...!!"


Sayup-sayup Kyara mendengar suara orang yang sangat dikenalinya memanggil namanya sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.


***