
"Tidak perlu. Karena aku tidak membutuhkan tanggung jawab dari seorang pria yang tidak mau mengakui anaknya." Ucap Bianca tiba-tiba.
Ke lima pria itu pun sontak menatap ke arah pintu kamar dimana Bianca nampak keluar dari dalam kamar sambil menggendong Cilla yang sudah nampak tenang.
"Bianca... Apa yang kau katakan!" Hardik Reno yang tidak suka dengan perkataan Bianca. "Cilla harus mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya. Apa kau mau anakmu selamanya hidup tanpa mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya?" Tekan Reno yang sudah berdiri tegak.
Bianca nampak terdiam. Ia hapus air mata yang mulai membasahi pipinya. "Tak masalah, dari pada ayah dari anakku hanya terpaksa mengakuinya." Balasnya. "Sebaiknya kami pergi dari sini. Karena aku sudah memutuskan untuk membesarkan anakku seorang diri sebagi Ibu dan Ayah bagi Cilla." Ucap Bianca menahan sesak di dadanya.
"Mom... Cilla mau Daddy..." Ucap Cilla kemudian menangis kencang.
"Cilla... Dengarkan perkataan Mom tadi... Kita bisa hidup berdua tanpa Daddymu." Bianca mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Tidak mahu... Cilla mau Daddy... Mau Daddy..." Raungnya memberontak dalam gendongan Bianca.
Sontak saja ucapan Cilla yang menginginkan sosok seorang Daddy itu membuat hati Calvin terasa sakit.
"Aku akan bertanggung jawab bila Cilla terbukti anak kandungku. Mari kita lakukan tes DNA sekarang juga!" Ucap Calvin tiba-tiba.
Sontak saja ucapan Calvin membuat semua orang terkejut. Terlebih Bianca.
"Baiklah. Kalau begitu ayo sekarang kita pergi ke rumah sakit untuk membuktikan kebenarannya." Ucap Gerry lalu berdiri.
William dan Dika pun ikut berdiri. Sedangkan Reno, pria itu kini telah mendekat pada Bianca untuk menenangkan Cilla yang sedang menangis.
Pagi itu mereka pun langsung berangkat menuju rumah sakit yang cukup terkenal di kota C untuk melakukan tes DNA.
"Karena di dalam mobil kita sudah penuh dan tidak bisa membawa Daddy." Balas Bianca berusah menenangkan ketakutan putrinya.
Mobil pun terus melaju hingga dua puluh menit kemudian mereka pun telah sampai di depan rumah sakit yang cukup terkenal di kota itu.
Dika pun nampak berjalan lebih dulu menuju ruangan dokter yang akan menangani tes DNA Calvin dan Cilla karena Dika cukup mengenal baik dengan beberapa dokter yang ada di sana.
Tak lama Calvin dan Cilla pun diminta masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pengambilan sampel untuk tes DNA mereka. Karena Cilla sangat takut dengan jarum suntik, akhirnya dokter pun memilih melakukan tes DNA menggunakan sampel rambut Cilla.
"Bagaimana?" Tanya Gerry dan William hampir bersamaan saat Dika sudah keluar dari dalam ruangan diikuti Calvin dan Cilla.
"Hasilnya akan keluar besok pagi. Untuk saat ini kita hanya perlu menunggu hasilnya keluar dan merundingkan kembali keputusan yang harus Calvin ambil." Ucap Dika.
William, Reno dan Gerry mengangguk paham.
"Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, aku harus segera kembali ke perusahaan karena banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan." Ucap Calvin dengan nada dingin.
Reno yang duduk di samping Bianca nampak menahan kekesalannya atas sikap Calvin. Sedangkan Bianca yang melihat tangan Reno terkepal erat mencoba untuk melepaskan kepalan tangan Reno. Bianca tidak ingin sahabatnya sampai baku hantam karena ingin memberikan keadilan untuknya dan anaknya.
"Daddy... Bolehkah aku memelukmu?" Ucap Cilla tiba-tiba saat Calvin hendak pergi meninggalkan mereka.
***
Lanjut lagi kalau vote, komen dan likenya banyak aja deh😌