
"Tapi—"
"Kau terlalu banyak bicara." Ucap Calvin lalu berjalan lebih masuk ke dalam mobilnya.
"Emh, Nona. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam mobil atau Tuan Calvin akan marah." Ucap Merry merasa takut dengan wajah dingin Calvin.
"Huh baiklah... Kau benar. Ayo naik." Ajak Bianca yang diangguki oleh Merry.
"Besok pagi aku akan mengantarkanmu pergi bekerja. Jadi kau tidak perlu bingung untuk berangkat bekerja besok. Dan mobilmu sudah aku titipkan pada security." Ucap Calvin saat mobil sudah melaju di jalan raya.
Bianca memiringkan sedikit tubuhnya. "Terimakasih. Aku sungguh merepotkanmu." Balasnya merasa sungkan walau pun Calvin adalah suaminya.
"Jika kau tahu itu merepotkan, maka lain kali jangan melakukan hal yang sama." Balas Calvin.
Glek.
Merry yang mendengarkan percakapan bosnya dan suaminya itu meneguk salivanya susah payah saat melihat wajah Calvin yang begitu dingin dan nada suaranya yang datar.
Apa Tuan Calvin marah pada Nona Bianca? Tapi aku rasa tidak. Dia seperti mengkhawatirkan Nona. Merry menduga-duga.
"Akan aku usahakan. Tapi jika ada pekerjaan yang—" Ucapan Bianca terhenti karena Calvin sudah kembali berbicara.
"Aku tidak akan mengizinkan kau kembali bekerja sampai malam seperti ini lagi." Ucap Calvin membuat Bianca seketika terdiam.
Ternyata benar. Tuan Calvin mengkhawatirkan Nona Bianca. Walau pun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apa-apa, namun makna dari kata-katanya sudah menjelaskan semuanya. Dari kursi belakang Merry kembali berucap dalam hati.
Suasana di dalam mobil pun kembali hening karena Bianca dan Calvin tak lagi melanjutkan percakapan mereka. Mobil pun terus melaju menuju apartemen tempat tinggal Merry.
"Terimakasih atas tumpangannya, Tuan Calvin, Nona Bianca." Ucap Merry sebelum turun dari dalam mobil.
Calvin mengangguk tanpa bersuara.
"Sama-sama, Merry." Balas Bianca seraya tersenyum.
Merry pun turut tersenyum lalu menutup pintu mobil.
*
"Sudah, Nona. Nona kecil sudah tidur sejak satu jam yang lalu."
"Baiklah. Kalau begitu Bibi istirahatlah." Ucap Bianca yang diangguki oleh pengasuh Cilla.
Bianca pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Apa dia marah kepadaku? Kenapa dia hanya diam saja sejak tadi? Tanya Bianca dalam hati melihat sikap suaminya.
Ceklek
Mendengar pintu kamarnya yang terbuka tak menghentikan kegiatan Calvin yang sedang membuka jam tangannya.
"Calvin..." Bianca nampak ragu berjalan ke arah suaminya.
Calvin diam. Pria itu pun meletakkan jam tangannya di atas nakas.
"Apa kau marah kepadaku?" Tanya Bianca walau pun Calvin belum menjawab panggilannya.
"Mandilah." Ucap Calvin singkat lalu melangkah menuju kamar mandi.
Dia menyuruhku m**andi? Tapi dia masuk ke kamar mandi? Apa maksudnya? Bianca kembali dibuat bertanya-tanya dengan sikap suaminya.
"Kau tunggu apa lagi?" Ucap Calvin yang sudah berada di dalam kamar mandi.
"Maksudmu kau menyuruhku mandi bersamamu?" Tanya Bianca dengan ragu.
"Cepat masuk!" Bukannya menjawab, Calvin justru memberi perintah. Dan mau tidak mau Bianca pun menuruti keinginan suaminya sebelum sebelah taring suaminya akan keluar.
"Calvin... Kau ingin apa?" Bianca memundurkan langkahnya saat Calvin mendekat ke arahnya.
"Apa kau tidak ingat permintaan Cilla tadi siang?" Tanya Calvin dengan tangan yang sudah bergerak membuka kancing kemeja Bianca.
"Tapi Calvin... Aku baru saja pulang." Ucap Bianca sambil menahan nafas karena tangan Calvin mulai bergerak tak tentu arah.
***