
"Tapi Rania... Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap William mencoba memundurkan niat istrinya yang ingin ikut. William mengelus puncak kepala Rani. "Aku janji tidak akan lama." Lanjutnya lagi.
"Tapi aku tetap ingin ikut. Karena aku ingin makan di sana." Ucap Rania tanpa memperdulikan ucapan William.
William menghela nafas panjang. "Kau ingin makan langsung di sana?" Tanya William yang diangguki cepat oleh Rania. "Huh, baiklah. Tunggulah di sini. Aku akan mengambilkan jaket untukmu." William pun berjalan menuju lemari pakaian untuk mengambil jaket untuknya dan Rania.
Tak lama William pun telah kembali dengan penampilan casualnya dengan menenteng baju ganti dan jaket untuk Rania.
"Pakailah." Titah William yang diangguki cepat oleh Rania.
"Ayo berangkat!" Ajak Rania sambil menggangdeng lengan suaminya.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri. Malam itu William dan Rania pun berangkat menuju warung sate Pak Ujang.
"Cuacanya dingin sekali." Ucap Rania saat turun dari dalam mobil saat sudah sampai di depan warung sate Pak Ujang. Rania pun semakin mengetatkan jaket di tubuhnya.
"Kan aku sudah bilang. Lebih baik kau tunggu di rumah saja." Ucap William merasa gemas dengan tingkah istrinya.
Rania memberengut. "Aku kan ingin makan di sini." Balasnya tak ingin disalahkan.
"Ya sudah. Ayo masuk!" Ajak William yang diangguki oleh Rania.
Untung saja saat itu stok sate kambing Pak Ujang masih tersisa sehingga William bisa merasa lega akibat bisa memenuhi ngidam istrinya.
"Enak loh, kau mau?" Tawar Rania mengangkat satu tusuk sate di tangannya.
William menggeleng. "Aku tidak terlalu suka daging kambing." Balasnya.
Rania mengangguk mengerti. Pantas saja waktu itu William lebih memilih sate daging Sapi dan Ayam saat ia dan Kyara membawa pria bule itu makan di warung sate Pak Ujang.
"Uhuk... Uhuk..." Rania terbatuk.
"Baru saja dibilang." Ucap William sambil menggelengkan kepalanya. "Ayo minum dulu." Ucap William sambil memberikan segelas air putih pada istrinya.
Setengah jam berada di warung Pak Ujang, William pun segera membawa Rania untuk pulang.
"Kenapa mataku berat sekali." Gumam Rania saat mobil sudah kembali berjalan menuju arah pulang.
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika sudah sampai nanti." Ucap William yang dituruti oleh Rania.
"Kenapa kau semakin menggemaskan saja dengan pipimu yang semakin membulat itu." Ucap William merasa semakin gemas melihat istrinya yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka.
*
Mansion Bagaskara
Pagi-pagi sekali tengah terjadi keributan kecil di dalam kamar antara Gerry dan Kyara hingga membuat Gerry merasa bingung untuk menjawab pertanyaan istrinya.
"Gerry... Apa maksud semua ini... Kenapa aku bisa hamil?" Ucap Kyara menunjukkan dua buah tespeck di tangannya pada Gerry. Karena sudah hampir telat satu bulan tidak datang bulan, Kyara pun iseng untuk melakukan tes kehamilan walau pun hasilnya tidak mungkin karena Kyara masih meminum pil KBnya beberapa hari yang lalu sebelum Gerry meminta langsung padanya untuk memiliki anak lagi.
"Kau hamil?" Wajah Gerry yang sangat bahagia itu ia tutupi dengan berpura-pura terkejut.
"Dari tes yang aku lakukan sepertinya begitu. Tapi bagaimana aku bisa hamil secepat ini sedangkan aku selalu rutin meminum pil penunda kehamilan?" Cecar Kyara merasa ada yang aneh.
***
Komen yang banyak dulu deh baru aku lanjut lagi😩