Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kebaikan James


"Rasanya badanku sangat sakit sekali." Gumam Bianca saat bangun dari tidurnya. Pandanga. Bianca pun jatuh pada pria yang menjadi penyebab rasa sakitnya kini sedang tertidur pulas di samping.


"Dia benar-benar ingin membuatku tak bisa berjalan." Gerutu Bianca saat turun dari ranjang. Dengan langkah pelan Bianca pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Pagi ini ia harus kembali datang pagi-pagi sekali memastikan kembali hasil jahitannya sebelum diserahkan pada Tuan James.


Dua puluh menit menghabiskan waktu di kamar mandi, Bianca pun keluar. Dan baru saja satu langkah kakinya keluar dari dalam kamar mandi, Bianca dibuat terkejut melihat Calvin sudah bediri di depan matanya.


"Calvin... Kau sudah bangun?" Tanya Bianca.


"Apa kau masih melihatku menutup mata?" Tanya Calvin dengan datar.


Bianca menghela nafasnya. Menghadapi pria seperti suaminya memang harus memiliki kesabaran yang melimpah.


"Apa kau ingin mandi? Masuklah. Aku sudah selesai." Ucap Bianca sambil menggeser tubuhnya ke samping.


Tanpa menjawab ucapan Bianca, Calvin pun segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa dia semudah itu bersikap biasa saja setelah apa yang terjadi tadi malam?" wajah Bianca berubah sendu. Pikiran buruk pun mulai berkeliaran di benaknya.


*


"Bagaimana Tuan James? Apa hasil jahitan saya cukup memuaskan?" Tanya Bianca setelah memperlihatkan hasil kerjanya pada Tuan James di butiknya.


"Lumayan." Balas James dengan singkat.


Apa katanya tadi? Lumayan? Bianca berucap dalam hati sambil menatap tak percaya pada James.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau tidak suka dengan jawabanku?" Tanya James dengan tersenyum miring.


"Bukan begitu. Hanya saja selama ini anda tidak pernah memuji hasil karya saya. Apa lagi saat ini hasil kerja saya hanya dikerjakan selama tiga hari dan itu tidak mudah." Ucap Bianca.


"Ternyata kau wanita yang gila pujian juga." Cibir James.


"Terserah apa kata anda, Tuan. Sepertinya saya salah bicara." Bianca memaksakan senyumannya.


"Cih. Kau terlihat menahan kesal padaku." Ucap James lalu berdiri dari duduknya.


Merry yang kini duduk di samping Bianca berusaha menenangkan Bianca dengan mengelus punggungnya.


"Hugo. Kau urus semuanya. Saya akan menunggumu di mobil. Dan berikan bayaran yang sesuai dengan hasil kerja Nona Bianca." Ucap James lalu berlalu dari dalam ruangan.


"Baik, Tuan." Balas Hugo.


Bianca menatap sebal pada pintu yang sudah tertutup dan menghilangkan sosok James di sana.


"Nona Bianca." Suara Hugo memanggil namanya membuat perhatian Bianca teralihkan.


"Saya sudah mentransfer pembayaran ke rekening anda." Ucapnya lalu menyerahkan sebuah map ke depan Bianca. "Dan ini adalah kontrak kerjasama yang dulu pernah anda tawarkan. Tuan James sudah menandatangani surat kerja sama ini dan mulai saat ini perusahaan kami akan menjadi distributor bahan pakaian untuk butik anda." Ucap Hugo yang berhasil membuat Bianca terbelalak tak percaya.


"Apa? Apa anda serius?" Wajah Bianca yang awalnya masam berubah ceria.


"Saya tidak pernah bercanda, Nona. Tuan James sangat mengapresiasikan kinerja anda selama ini dan hal itulah yang menjadi pendukung Tuan James menerita tawaran anda tanpa syarat." Ucap Hugo lagi.


"Astaga. Aku hampir saja mengumpatnya tadi." Gumam Bianca pelan namun masih dapat didengar oleh Hugo.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Besok pagi Tuan James menunggu kedatangan anda untuk pembahasan kerja sama ini untuk selanjutnya." Ucap Hugo lalu mengulurkan tangannya pada Bianca.


***


Lanjut? Berikan like, vote dan komennya dulu yuk.


Dan jangan lupa kalau cerita Dika dan Hana akan terbit sebentar lagi setelah cerita Bianca dan Calvin tamat yah😉