Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Hati yang remuk


"Emh... Ya. Dia adalah pelayan di mansion Kakek yang disuruh untuk membantuku di sini." Jawab Gerry pelan namun masih bisa terdengar oleh Kyara.


Kyara memejamkan kedua matanya sambil menunduk. Ia tidak menyangka jika suaminya juga akan mengakuinya hanya sebagai pelayan semata.


"Tapi kenapa Kakek menyuruh wanita yang sangat can—" Ketty menghentikan ucapannya ketika menyadari sesuatu. Tidak mungkin ia mengatakan jika wanita yang ia anggap sebagai pelayan Gerry sangatlah cantik. "Huh, lupakan saja!" Cetusnya kemudian.


"Sudahlah... Kau jangan terlalu banyak pikiran. Ada apa kau mendatangiku kemari, hem?" Tanya Gerry mengalihkan perhatian Ketty.


"Tentu saja karna aku sangat merindukanmu. Walau kita baru bertemu tadi siang..." Balas Ketty begitu lembut.


"Selain itu?" Pancing Gerry yang begitu tahu akan sifat kekasihnya itu.


"Tentu saja aku ingin kau menemaniku untuk berbelanja di butik langgananku." Ucap Ketty malu-malu kemudian memeluk erat tubuh kekar kekasihnya.


Gerry terkekeh. Tangannya kini sudah berada di kepala Ketty mengelus lembut rambut kekasihnya. Dua insan manusia yang sedang bermesraan itu nampak begitu menikmati kegiatan mereka sampai melupakan jika ada satu sosok manusia yang sudah remuk melihat pemandangan di depannya.


Kyara terburu-buru melangkah menuju kamar mandi karena dadanya sudah begitu sesak. Bahkan kini air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Kyara menangis tersedu-sedu di dalam kamar mandi. Entah mengapa hatinya begitu sakit melihat perlakuan Gerry yang begitu lembut pada kekasihnya. Sedangkan pada dirinya justru kebalikannya.


Kyara memukul dadanya yang begitu sesak. "Kau harus sadar, Kya... Dari awal kau lah yang masuk mengganggu hubungan mereka... Kau lah yang bersalah di sini... Tidak seharusnya kau merasa sakit hati melihat kemesraan mereka!" Kyara memukul kepalanya guna menyadarkan pemikirannya. Entah rasa apa yang ia rasakan saat ini. Yang jelas hatinya sudah hancur berkeping-keping.


Tiba-tiba saja Kyara meringis merasakan keram pada perutnya. Kyara pun tersadar jika kini ia tidak sendiri. Adanya nyawa yang sedang ia bawa di dalam tubuhnya. Ia teringat akan pesan dokter jika dirinya tidak boleh stress. Yang akan berakibat pada janin dalam kandungannya.


Kyara pun membasuh wajahnya untuk menghilangkan sembab di matanya. Walau pun itu tidak terlalu berfungsi. Ia memilih untuk tetap berada di area dapur sampai kedua insan yang sedang melepas rindu itu pergi dari apartemen.


Gerry mengangguk. "Karena Kakek memintanya untuk membantu urusanku jika tiba-tiba saja aku memerlukan sesuatu." Jawab Gerry berbohong.


"Apa benar begitu?" Sekiranya Ketty nampak begitu ragu dengan jawaban Gerry.


"Benar, Sayang... Sudahlah jangan banyak pikiran lagi. Jangan bilang jika kau cemburu padanya?" Goda Gerry mencubit gemas hidung kekasihnya.


"Cih. Tentu saja tidak. Dia bahkan tidak ada tandingannya untukku." Ucap Ketty percaya diri. Padahal di dalam hatinya ia sempat mengakui jika Kyara sangatlah cantik walau tanpa riasan make up seperti dirinya.


"Sudahlah. Aku sudah tidak ingin membahas pelayanmu yang tidak penting itu lagi. Sebaiknya kita segera pergi karena sebentar lagi butik langgananku itu akan tutup!" Ajak Ketty kemudian.


"Baiklah. Kau tunggulah sebentar. Aku akan mengganti pakaian." Ucap Gerry beranjak dari sofa yang didudukinya.


"Jangan lama...!" Pekik Ketty ketika Gerry sudah berada di undukan tangga pertama.


Gerry berbalik arah kemudian mengangguk pada kekasihnya itu.


***


Buat teman-teman yang bertanya kenapa alurnya lambat. Karena memang aku sudah menyusun alurnya seperti ini. Cerita ini dikhususkan untuk kalian yang bisa bersabar menunggu puncak konfliknya selesai. Terimakasih.


Jangan lupa like, komen dan voteny, ya:)