Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Pria yang menolongnya


"Bianca tenanglah." James memegang tangan Bianca yang nampak terkepal erat di atas meja. Melihat wajah Bianca nampak pucat membuatnya menjadi merasa bersalah.


"Kenapa kau bisa mengetahui kejadian itu?" Tanya Bianca merasa bingung.


"Karena akulah pria yang menolongmu waktu itu." Ucap James pada akhirnya. "Dan aku juga yang membawamu ke rumah sakit dalam keadaan pingsan waktu itu."


"A-apa?" Bianca merasa terkejut. "Jadi kaulah pria yang aku cari selama ini?" Bianca benar-benar merasa tak percaya. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana sosok pria yang menolongnya itu dengan beraninya menghajar ke empat pria yang berniat buruk padanya.


James mengangguk membenarkan. "Setelah mengantarkanmu ke rumah sakit dan memastikan keadaanmu baik-baik saja, aku pun terpaksa meninggalkanmu karena ada pekerjaan yang harus aku lakukan. Namun aku sudah menyuruh anak buahku untuk menjagamu."


"Kenapa kau tidak lagi menemuiku? Apa kau tahu jika aku sangat ingin bertemu denganmu dan mengucapkan terimakaih karena telah menolongku? Jika saja kau tidak ada waktu itu, mungkin saja aku..." Bianca tak lagi melanjutkan ucapannya. Air matanya mulai berjatuhan membasahi pipinya membayangkan apa yang terjadi padanya jika James tidak datang waktu itu.


"Aku selalu datang menemuimu namun di saat kau sudah tertidur. Dan saat kau sudah diperbolehkan untuk pulang, aku tak sempat menemuimu karena aku harus pergi ke luar kota saat itu juga."


"Tuan James..." Bianca menatap James dengan tatapan sendunya. "Terimakasih telah menolongku dan menyelamatkanku waktu itu. Aku sangat berhutang budi padamu." Ucap Bianca tanpa sadar menggenggam erat tangan James.


James tersenyum. Merasakan lembutnya tangan Bianca yang saat ini menggenggam erat tangannya. Pembicaraan mereka pun terus berlanjut dengan ucapan terimakasih Binca yang tak putus.


Di meja lain yang tidak jauh dari James dan Bianca berada, seseorang yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka nampak mengepalkan kedua tangannya erat. Jika saja saat ini tidak ada rekan bisnisnya di hadapannya, ia tidak akan segan-segan melayangkan pukulannya pada James karena sudah menyentuh tangan wanitanya.


*


"Apa kau sesenang itu setelah bertemu dengan pria lain dibelakang suamimu?" Ucap seseorang tiba-tiba yang kini berdiri di belakangnya. Bianca pun sontak membalikkan tubuhnya lalu menatap pria di depannya dengan wajah terkejut.


"Calvin... sedang apa kau di sini?" Tanya Bianca.


"Kenapa? Kau terkejut karena aku juga ada di tempat pertemuanmu dengan pria itu?" Ucap Calvin dengan wajahnya yang sudah tidak ramah.


"Kau jangan salah paham, Calvin. Aku dan Tuan James bertemu hanya—"


"Hanya apa? Hanya ingin bermesraan di tempat umum begitu?" Cecar Calvin.


"Tidak. Kau salah pa—" Ucapan Bianca kembali terhenti sebab Calvin memegang kuat tangannya.


"Sekarang ikut aku!" Titah Calvin dengan wajah memerah lalu menyeret Bianca masuk ke dalam mobilnya yang terparkir cukup jauh dari mobil Bianca.


"Calvin... lepaskan aku... kau sungguh salah paham." Bianca berusaha melepaskan tangan Calvin yang semakin memegang kuat tangannya.


Namun Calvin menulikan telinga dan terus berjalan menuju ke arah mobilnya. Saat sudah berada di samping mobilnya, Calvin pun dengan kasar memasukkan tubuh Binca ke dalam mobilnya.


***