Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Perasaan tidak suka


Kyara meringis kesakitan ketika tubuhnya ditarik paksa oleh Gerry menaiki tangga menuju kamarnya. Kyara tidak dapat berbuat apa-apa selain memohon untuk dilepaskan.


"Maafkan saya, Pak... Saya mohon lepaskan..." Lirih Kyara dengan air mata berderai di wajahnya.


Gerry menulikan telinga. Membuka pintu kamarnya dengan kasar dengan tangan yang masih memegang erat pergelangan tangan Kyara. Tubuh Kyara terhempas kasar di atas ranjang. Kyara kembali meringis menahan sakit di tubuhnya.


Tanpa merasa jijik dengan tubuh Kyara yang masih mengenakan pakaian kerjanya dan belum mandi, Gerry kembali mengambil haknya dengan kasar. Sejak melihat Kyara membawakan kopi ke ruangannya tadi pagi, Gerry sudah berhasrat ingin menyentuh istrinya itu. Apalagi setelah berpuasa selama seminggu membuat hasratnya menggebu-gebu ingin dituntaskan.


Gerry tetap memacu tubuhnya tanpa mempedulikan rintihan Kyara. Mengingat kembali sikap William kepada Kyara di dalam ruangannya tadi pagi membuat Gerry semakin menaikkan tempo permainannya. Kyara hanya bisa menggigit kuat bibir bawahnya menahan desahannya agar tidak keluar.


Gerry kembali mengenakan kemejanya setelah selesai menuntaskan hasratnya. Kyara hanya diam mengenggam erat selembar selimut yang menutupi tubuh polosnya. Memperhatikan Gerry kembali mengenakan satu pakaiannya yang sudah berserakan di lantai.


Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Gerry menatap Kyara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ucapan terakhir Gerry sebelum meninggalkan kamarnya benar-benar menyakiti Kyara sampai ke ulu hatinya.


"Pernikahan konyol ini hanya akan berjalan selama enam bulan sampai kekasihku kembali ke tanah air. Sebelum satu bulan pernikahan ini berakhir, kau harus melakukan cara agar Kakek tidak menyudutkanku atas perpisahan kita nantinya. Jika kau tidak menemukan cara untuk mengakhiri pernikahan ini, maka jangan salahkan aku jika berbuat hal keji di luar dugaanmu. Jika bukan karena kakek dan semua fasilitas yang kakek berikan, aku tidak sudi menikahi wanita rendah seperti dirimu! Bahkan kekasihku tidak ada apa-apanya dibanding dirimu. Camkan itu! Dan ingat, kau hanya alat sebagai pemuas nafsuku di atas ranjang. Jadi jangan besar kepala jika aku menyentuhmu!" Ucap Gerry dengan sinis sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.


Kyara hanya bisa menahan sesak di dadanya. Hanya air mata yang bisa mewakili sakit hatinya saat ini. Walau sudah meyakini kejadian seperti ini akan terjadi, tetapi tetap saja Kyara tidak bisa menahan jika hatinya saat ini benar-benar terluka.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Kyara memungut satu persatu pakaiannya yang berserakan dilantai dan mengenakannya kembali. Mengganti sprei yang sudah kusut dan bau amis akibat pergulatannya dengan Gerry yang berlangsung selama tiga jam. Setelah memastikan kamar Gerry bersih dan rapi, Kyara pun keluar menuju kamarnya untuk membersihkan diri.


Dentuman musik yang cukup keras ditambah tiga gelas anggur menemani malam ketiga pria tampan yang kini terlibat obrolan ringan mereka.


"Apa kau serius akan menjadikan wanita itu menjadi istrimu, William?" Tanya Reno tidak yakin setelah mendengarkan cerita William tentang wanita incarannya.


"Aku sungguh yakin. Ya, walau pun kami belum cukup kenal, tetapi aku dapat melihat sisi baik di dalam dirinya." Jelas William sambil tersenyum merekah. "Bukannya begitu, Gerry?" Tanya William pada Gerry yang kini sudah menahan kembali amarah di dadanya.


*


*


*


Lanjut? Happy reading!:)


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉