Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Merindukanmu


Usia kandungan Kyara saat ini sudah memasuki sembilan bulan. Hari-hari Kyara lalui seperti biasanya seperti saat awal mula kedatangannya di kampung Rania. Kyara masih tetap membantu Rania di warungnya sebisanya. Sudah hampir satu bulan belakangan ini Gerry sudah tak lagi sering mengunjungi Kyara seperti biasanya. Terhitung Gerry baru mengunjungi Kyara hanya dua kali selama satu bulan terakhir.


Dug


Kyara mengelus perutnya yang terasa sakit akibat tendangan anaknya.


"Kangen Papa ya?" Ucap Kyara mengelus perutnya. Ia dapat merasakan jika anaknya akan bergerak aktif jika sedang merindukan sentuhan hangat papanya. Sama seperti anakanya, Kyara pun kerap merasa sedih karna Gerry sudah jarang menemuinya. Padahal saat-saat seperti inilah ia sangat membutuhkan Gerry untuk menemaninya menghadapi persalinan yang terhitung hanya beberapa minggu lagi.


"Kenapa aku merasa sedih? Bukankah memang seperti ini yang aku inginkan?" Kyara menghela nafas dalam-dalam berharap bisa membuang sesak di dadanya.


"Kau sudah siap, Kya?" Kepala Rania nampak menyembul dari celah pintu yang terbuka. Hari ini mereka akan dijemput oleh kedua orangtua Gerry karna Kyara sudah menyetujui untuk melahirkan di kota J.


"Sudah... Apa Mama dan Papa sudah sampai?" Tanya Kyara kemudian beranjak dari ranjang.


"Sudah. Mereka baru saja sampai. Dan mereka mencarimu saat ini." Jelas Rania.


"Apa Gerry tidak ikut?" Tanya Kyara denhan pelan namun masih dapat terdengar oleh Rania.


Rania menggeleng. Ia dapat melihat raut kesedihan di wajah Kyara. "Pak Gerry masih berada di luar kota."


Kyara mengangguk saja. Mungkin efek kehamilan membuatnya selalu ingin berdekatan dengan suaminya walau pun pada kenyataannya ia masih merasa awas jika berada dekat dengan Gerry.


Rania pun memasuki kamar Kyara dan membantu membawa barang-barang Kyara keluar dari dalam kamar.


"Maaf sudah membuat Papa dan Mama menunggu." Ucap Kyara merasa sungkan. Kemudian mengulurkan tangan bergantian pada Mama Riana dan Papa Johan.


Kyara pun tersenyum dan duduk berhadapan dengan Mama Riana dan Papa Johan. Tak lama Rania pun datang memberikan minuman pada Mama Riana dan Papa Johan. Setelah menikmati minuman dan cemilan yang dihidangkan Rania, mereka pun berniat untuk mengajak Kyara untuk segera berangkat ke kota J.


"Apa Papa dan Mama tidak ingin istirahat terlebih dahulu sebelum berangkat kembali?"


"Mama dan Papa sudah istirahat beberapa jam yang lalu di hotel sebelum sampai ke sini. Lagi pula Kakek sangat berharap kita bisa sampai di kota J sebelum gelap. Karna Kakek ingin mengajak kita untuk makan bersama di mansion." Jelas Mama Riana.


"Baiklah jika begitu." Kyara pun menurut.


"Rania..." Mata Kyara nampak mengembun saat Rania mengantarkan kepergiannya di depan mobil.


"Hust... Jangan mengangis... Kau tenang saja, aku akan menyusulmu satu minggu lagi." Ucap Rania menenangkan Kyara. Rania pun mendekat dan memeluk Kyara erat.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu." Cicit Kyara yang sudah berderai air mata.


"Aku tahu. Aku memang pantas untuk kau rindukan." Kelakar Rania.


Kyara memukul pelan pundak Rania. "Kau janji akan menyusulku bukan?" Kyara melerai pelukannya.


Rania mengangguk mantap. Kemudian kembali memeluk tubuh Kyara. "Kita hanya berpisah di kota yang berbeda. Bukan di alam yang berbeda, Kya. Jadi kau jangan takut begitu. Aku pasti akan menyusulmu ke sana. Lagi pula aku ingin melihat bagaimana wajah calon keponakanku saat baru lahir nantinya." Janji Rania.


***