
Setengah jam setelah kepulangan Merry, suara hujan turun yang terdengar cukup keras pun mulai terdengar. Bianca yang masih sibuk mengerjakan jahitan di depannya pun menghentikan kegiatannya.
"Ternyata benar-benar hujan." Gumam Bianca lalu bangkit dari kursi kerjanya. Melangkah ke arah jendela lalu menyingkap sedikit gorden di depannya. "Hujannya lebat sekali... bagaimana aku bisa pulang jika begini?" Bianca menutup kembali gorden jendela lalu melangkah ke arah sofa dan duduk di sana.
"Sudah setengah jam berlalu setelah Merry berpamitan pulang. Semoga saja Merry sudah sampai di apartemennya sehingga dia tidak terjebak hujan di perjalanan." Gumam Bianca memikirkan nasib asisten pribadinya.
Duar
Suara petir yang terdengar cukup keras membuat Bianca yang masih termenung pun terkejut. "Bagaimana ini? Sepertinya hujannya akan lama berhenti. Apa aku di sini saja sambil menunggu hujan reda? Tapi ... bagaimana jika Cilla ketakutan di rumah menunggu kepulanganku." Bianca dilanda kebingungan. Bianca pun bangkit dari duduknya lalu kembali berjalan menuju meja kerjanya. "Sudahlah. Aku selesaikan saja jahitan ini sambil menunggu hujan sedikit reda." Putusnya tak ingin lama berpikir lalu duduk di kursi kerjanya.
*
Di rumahnya, Calvin yang sedang menatap derasnya hujan dari jendela kamarnya dibuat terkejut saat mendengar suara cukup keras Cilla memanggil namanya.
"Daddy..." kepala Cilla nampak menyembul di sela pintu yang sedikit terbuka.
"Cilla... ada apa?" Calvin berjalan dengan langkah lebar ke arah putrinya lalu menggendongnya.
"Cilla takut... hujan di luar sangat deras..." lirihnya lalu menjatuhkan kepalanya di bahu Calvin.
"Apa Bibi tidak menemanimu di kamar?" Tanya Calvin. Karena ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya dan sebelum itu sudah menitipkan pesan pada pelayan untuk menjaga Cilla.
"Bibi menemanimu. Namun aku ingin ditemani dengan Daddy." Balasnya.
Calvin pun melangkah melangkah membawa tubuh Cilla menuju ranjang. "Apa kau masih takut saat ini?" Tanya Calvin sambil mengelus rambut putrinya.
"Sudah tidak takut. Tapi aku mengkhawatirkan Mommy. Bagaimana Mommy terjebak hujan di perjalanan? Atau Mommy tidak bisa pulang dan masih berada di butik saat ini." Wajah gadis kecil itu nampak begitu khawatir mengingat wanita yang telah melahirkannya.
"Bukankah berkendara saat hujan deras cukup berbahaya, Daddy? Aku takut Mommy kenapa-napa. Biasanya Mommy selalu berhenti jika hujan sangat deras seperti saat ini." Wajah Cilla sudah nampak ingin menangis. Membayangkan Mommynya yang sedang sendirian di luar sana.
Calvin dibuat terdiam. Pandangannya pun tertuju pada jendela yang masih menampakkan hujan deras di luar sana.
"Daddy... hiks... ayo hubungi Mommy!" Pinta Cilla yang sudah menangis.
Mendengar tangisan putrinya, Calvin pun segera menyambar ponselnya yang ada di atas nakas.
"Bagaimana Daddy?"
"Nomor Mommy tidak aktif." Calvin mulai terlihat cemas.
"Bagaimana ini Daddy... ayo kita jemput Mommy, Daddy! Mom pasti sendirian saat ini di luar sana!" Cilla semakin menangis dengan kencang.
"Tenanglah little... Daddy akan pergi menjemput Mommy. Kau tunggulah di rumah bersama Bibi." Ucap Calvin lalu bangkit dari duduknya.
"Tapi Daddy... aku ingin ikut..."
Calvin menggeleng tanda tak setuju dengan permintaan putrinya. Calvin pun segera menggendong tubuh Cilla lalu membawanya keluar dari dalam kamarnya.
Setelah menitipkan Cilla bersama pelayan dengan susah payah sebab Cilla tetap bersikeras ingin ikut, Calvin segera mengendarai mobilnya untuk menjemput Bianca yang ia perkirakan masih berada di butiknya saat ini.
***
Lanjut lagi malam kalau komen, vote dan likenya banyak ya😊