Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kekhawatiran Rania


"Mama mohon bertahanlah..." Rintih Kyara mengelus perutnya. Air matanya semakin deras mengalir merasakan takut terjadi apa-apa pada anak dalam kandungannya.


Dengan tenaga yang masih tersisa, Kyara berjalan tertatih ke arah dapur untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di sana. Sesekali Kyara meringis merasakan sakit yang teramat sangat pada perutnya.


"Hiks... Tuhan... Tolong selamatkan anakku..." Tangis Kyara terisak.


Setelah berhasil menjangkau ponselnya yang berada di atas meja makan, Kyara pun dengan cepat menghubungi nomor Rania. Untung saja panggilan keluar terakhirnya adalah nomor Rania. Sehingga Kyara tidak terlalu lama untuk mencari nomor sahabatnya.


"Rania...." Lirih Kyara yang masih terisak merasakan sakit di perutnya.


"Kyara... Kau kenapa?" Rania yang berada di ujung telepon pun begitu panik mendengar suara tangisan Kyara.


"To-tolong aku..." Suara Kyara mulai terbata-bata merasa badannya sudah tidak kuat lagi untuk menyanggah tubuhnya.


"Kyara... Bicara yang jelas...!!! Kau kenapa??" Rania memekik menantikan jawaban dari Kyara.


"To-tolong aku... Pe-perutku su-sungguh sakit... A-aku—" Kyara tak lagi melanjutkan ucapannya ketika ponsel yang berada di tangannya sudah terjatuh di lantai bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk.


"Kya.... Hallo... Kya...." Rania memanggil-manggil nama Kyara. Panggilan masih terhubung. Namun suara Kyara tak lagi terdengar.


"Kyara... Kau kenapa?? Kya... Tolong jawab aku?!" Tanya Rania kemudian berharap Kyara masih mendengar suaranya.


Mendengar Kyara tak lagi merespon ucapannya. Rania pun mematikan panggilan telepon mereka. Dengan tergesa-gesa Rania berjalan menuju kamar adiknya. Rania pun meminjam motor adiknya untuk segera menuju apartemen Gerry memastikan keadaan Kyara.


Rania dan Kyara memang belum lama masih berbalas pesan dan Kyara mengatakan jika ia tengah makan malam di apartemen. Sehingga Rania memutuskan untuk langsung menuju apartemen Gerry. Ia tidak peduli lagi jika Gerry akan marah dengan kedatangannya. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah keselamatan Kyara.


"Pak William... Pak..." Rania menggedor kaca mobil William sehingga membuat William yang tengah fokus pada ponselnya terlonjak kaget.


Ketika melihat ke arah luar siapakah pelaku yang menggedor kaca mobilnya. William pun menurunkan kaca mobilnya.


"Ada apa ini, Rania?" Tanya William merasa aneh dengan sikap Rania.


"Kyara dalam bahaya... Tolong saya membantunya, Pak...!!" Pinta Rania. Pikiran Rania melayang jika Kyara dalam keadaan pingsan dan keadaan darurat. Ia tidak mungkin membopong tubuh Kyara sendirian. Maka dari itu Rania langsung berinisiatif meminta bantuan William.


"Apa?!" Pekik William. "Bagaimana bisa?!" Tanyanya kemudian.


"Saya juga tidak tahu kejadiaannya seperti apa. Yang jelas tadi Kyara menelpon saya dan ia menangis kesakitan." Jelas Rania.


Bunyi klakson yang bersahutan dari belakang mobil William karena lampu sudah menunjukkan warna hijau pun membuat William angkat bicara. "Saya tunggu kau di depan sana!!"


Rania mengangguk. Segera ia berjalan cepat ke arah motornya yang masih berada di tengah jalan.


"Kau tinggalkan saja motormu di toko itu. Aku akan menyuruh orang untuk membawanya pulang ke rumahmu." Ucap William karena tidak mungkin mereka menggunakan kendaraan berbeda.


Rania mengiyakan. Setelah menitip motornya pada pemilik toko, Rania pun bergegas masuk ke dalam mobil William. Mobil pun mulai melesat membelah keramaian dengan kecapatan tinggi.


***