
Kya, aku mendapatkan pesan dari Bu Retno untuk menyuruhmu untuk datang ke ruangannya besok pagi. Lapor Rania mengingat pesan Bu Retno di saat ia akan pulang.
Menyuruhku menemuinya? Ada apa, Rania? Setelah satu bulan jarang bertemu dengannya aku harus menemuinya lagi. Gerutu Kyara.
Entahlah. Aku juga tidak tahu, Kya. Sepertinya ada hal penting yang ingin dia bicarakan. Sahut Rania.
Baiklah jika seperti itu. Besok pagi aku akan menemuinya di ruangannya.
Jika dia berani macam-macam padamu, laporkan saja padaku, Kya! Aku akan memilin ususnya jika dia berbuat buruk kepadamu! Ancam Rania.
Kyara terkekeh. Kau ini ada-ada saja! Bagaimana caranya kau bisa memilin usus yang ada di dalam perutnya! Kelakar Kyara.
Kau tenang saja. Aku punya seribu cara untuk melakukannya!
Baiklah. Aku akan menunggumu memilin usus Bu Retno. Canda Kyara.
Kau ini... Aku benar-benar serius, Kya! Sungut Rania. Sudah dulu ya, Kya... Adikku ini menganggu saja menyuruhku mengambil handuknya yang ketinggalan!
Setelah panggilan terputus. Kyara pun melanjutkan membereskan pakaiannya yang ada di dalam lemari.
*
Sesuai ucapan Rania tadi malam, pagi ini sebelum ke lantai presdir, Kyara lebih dulu menemui Bu Retno di dalam ruangannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Setelah dipersilahkan, Kyara pun masuk ke dalam ruangan Bu Retno.
"Saya mendapat pesan dari Rania jika Ibu meminta saya datang ke ruangan Ibu." Jelas Kyara karena Bu Retno masih sibuk dengan tab di atas mejanya tanpa menghiraukannya.
Bu Retno mematikan layar tab dan mengalihkan pandangan pada Kyara. "Benar. Karena ada hal yang ingin saya sampaikan kepada kamu." Ucapnya datar.
Kyara mengangguk. Lalu memilih untuk diam mendengar penjelasan Bu Retno.
"Tugas kamu bekerja di lantai presdir sudah selesai. Hari ini Bobby sudah kembali masuk bekerja. Jadi hari ini kamu sudah mulai kembali bekerja di lantai 10." Jelas Bu Retno. Wajahnya nampak tak suka ketika mengucapkannya. Karena harapannya yang ingin melihat Kyara menderita di lantai khusus presdir dan memohon padanya untuk dipindahkan lagi ke lantai 10 malah berbalik. Kyara bahkan terlihat keasaab biasa-biasa saja saat ini.
Senyum tipis nampak tersemat di bibir Kyara. Saat-saat seperti ini yang memang ia harapkan. Tidak lagi bekerja di dekat suami galaknya dan bisa berdekatan lagi dengan Rania. "Baiklah, Bu. Mulai hari ini saya akan kembali bekerja di lantai 10." Jawab Kyara.
Bu Retno mengangguk. "Baiklah, sekarang kamu boleh keluar!" Ucapnya.
Kyara mengangguk. Kemudian melangkahkan kakinya keluar dari dalam ruangan Bu Retno.
"Kyara..." Pekik Rania melihat Kyara yang sedang meletakkan tas selempangnya di loker.
"Rania..." Balas Kyara tersenyum.
"Kau sudah kembali bekerja di lantai 10, Kya?" Tanya Rania berbinar.
Kyara mengangguk membenarkan. Melihat respon Kyara, Rania segera mendekat ke arah Kyara kemudian memeluk erat tubuh Kyara. "Astaga, Kya... Aku sungguh senang sekali bisa kembali berdekatan padamu..." Ucap Rania setelah melepas pelukannya.
"Aku juga sama sepertimu, Rania..." Ucap Kyara tersenyum.
"Karena kau sudah kembali bekerja di sini. Untuk merayakannya, aku akan mentraktirmu makan di kantin saat jam makan siang nanti!" Ucap Rania semangat.
"Kau itu berlebihan sekali, Rania... Tidak perlu repot-repot seperti itu. Tapi... Jika kau memaksa aku bisa apa!" Ucap Kyara terkekeh geli.
Mendengar ucapan Kyara sontak Rania memukul pelan bahu sahabatnya itu. "Kau ini..." Sungut Rania kemudian ikut terkekeh.
***