
"Aku hanya memeluk istriku. Apa itu salah?" Tanya William dengan pelan.
"Ti-tidak." Ucap Rania dengan tubuh yang semakin menegang.
William membalikkan tubuh Rania hingga wanita itu kini menghadap ke arahnya. "Kau sangat cantik..." Ucap William mengangkat dagu Rania hingga tatapan mereka saling bertemu. "Jangan tegang begini. Aku tidak akan membunuhmu." Kelakar William dengan senyuman menghiasi wajah tampannya.
Rania tertegun. Pandangannya kini terisi penuh oleh wajah tampan suaminya. Rania tak sedikit pun berkedip.
"Apa aku begitu tampan, hem?" Tanya William karena Rania hanya terdiam sambil menatap wajahnya.
Tanpa sadar Rania pun mengangguk. "Eh..." Ucapnya menutup mulut dengan kedua tangannya saat menyadari ucapannya.
"Aku tahu kau sudah lama mengagumi wajah tampanku bukan?" Tanya William dengan sebelah alis terangkat.
Deg
Lagi-lagi jantung Rania berdetak lebih cepat saat mendengar penuturan suaminya. "Kau ini bicara apa? Siapa yang mengagumi wajahmu!" Kilah Rania sambil memalingkan wajah ke samping.
William tersenyum. Meletakkan kesepuluh jemarinya di wajah Rania hingga pandangan mereka kembali bertemu.
"Kau terlalu serius. Aku hanya bercanda." Kilah William membuat Rania menghembuskan nafas lega.
"Lepaskan tanganmu. Aku sungguh tidak nyaman dengan posisi seperti ini!" Mencoba melepaskan jemari William yang berada di wajahnya.
"Rania..." Lirih William mencekal pergelangan tangan Rania saat wanita itu berusaha menghindar dari jangkauannya.
"Ada apa lagi, William?" Ucap Rania dengan nafas yang sudah tak beraturan.
"Bukankah kau ingin memiliki anak seperti Rey?" Tanya William dengan tangan merengkuh pinggang Rania hingga mengikis jarak di antara mereka. "Aku bisa mewujudkan keinginanmu." Lanjut William dengan tatapan dalam pada manik mata Rania.
"Kau ini bicara apa? Siapa yang ingin memi—" Ucapan Rania terhenti saat bibirnya sudah terbungkam oleh bibir tebal suaminya.
Kedua bola mata Rania membola sempurna saat menyadari jika William kini tengah menciumnya. Rania mencoba melepaskan ciuman suaminya yang begitu mengejutkannya. Namun di luar dugaan, bukannya melepas, William justru memperdalam ciumannya dengan menahan tengkuk wanita itu.
Ciuman lembut yang William berikan membuat Rania mulai terbuai. Hingga pikiran kotor pun mulai memenuhi pemikirannya dan tanpa sadar kini Rania sudah membalas ciuman suaminya. Merasa mendapat angin segar, William pun semakin memperdalam ciumannya. Tangannya yang bebas ia pergunakan untuk mengelus rambut istrinya.
"Agh, kenapa?" Ringis William mengusap bibirnya yang berdarah karena Rania menggigit bibirnya agar melepaskan pangutannya.
"Kenapa kau menciumku?!" Hardik Rania menatap tajam pada William. Rania mengelap bibirnya yang basah dengan baju yang dikenakannya.
"Karena aku menginginkannya." Jawab William apa adanya.
"Apa kau tidak ingat jika kau melarangku untuk mencintaimu? Apa kau tidak sadar dengan perlakukanmu ini bisa membuatku salah paham hingga mencintaimu?" Ucap Rania dengan bibir bergetar menahan tangis.
William tersentak. Perasaan bersalah mulai menyeruak di dalam dadanya. William pun kembali merengkuh tubuh Rania ke dalam pelukannya. "Maafkan aku." Ucapnya memeluk erat tubuh istrinya yang bergetar.
"Jangan menangis... Maafkan aku..." William mengurai pelukannya kemudian menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya. Perasaan bersalah benar-benar menghantui perasaannya melihat wanita kuat di depannya tengah menangis karena dirinya.
***
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (On Going)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^