Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Takut jatuh cinta


Siang harinya warung bakso Rania pun sudah buka lebih awal karna William sudah tidak sabar untuk ikut melayani pembeli dan sekaligus tebar pesona.


"Kau sudah seperti chef handal saja." Cibir Rania melihat William sudah memakai apron di tubuhnya.


"Aku terlihat lebih tampan bukan?" Ujar William dengan pedenya. "Aku takut dengan ketampananku ini membuat kau menjadi cinta padaku." Kelakarnya.


Aku bahkan sudah cinta padamu, William. Jawab Rania dalam hati.


"Hei kenapa dengan wajahmu itu?" Tanya William melihat perubahan raut wajah Rania.


"A-aku tak apa. Tunggulah di sini aku mau melihat Kyara di belakang dulu." Ujarnya kemudian berlalu dari sana.


"Dia itu aneh sekali." Wiliam menggeleng-gelengkan kepala dan melanjutkan kembali kegiatannya.


*


"Pak Gerry belum bangun juga, Kya?" Tanya Rania pada Kyara yang sedang menggoreng telur.


"Belum. Mungkin dia lelah." Ucap Kyara seadanya.


"Apa sebaiknya kau bangunkan saja, Kya? Ini sudah siang dan Pak Gerry belum makan dari tadi. Sedangkan kau sudah makan hampir tiga kali."


"Oh astaga... Aku melupakannya."


"Kau tidak boleh seperti itu, Kya. Walau pun dia pernah jahat, tapi dia masih suamimu." Tekan Rania.


"Sekarang bangunkanlah Pak Gerry dan suruh dia untuk makan." Lanjutnya kemudian.


"Aku tahu. Ya sudah aku ke atas dulu. Tolong lanjutkan masakanku." Ucap Kyara. Kemudian melepas apron di tubuhnya.


"Hati-hati menaiki tangga. Perutmu itu sudah sangat besar!"


"Iya-iya." Kyara pun berlalu.


*


"Huh, rasanya aku sudah tidak sanggup jika terus menaiki tangga." Ucap Kyara mengelap peluh di dahinya. Kyara pun lanjut berjalan menuju kamarnya.


Kyara menatap wajah Gerry yang masih damai dalam tidurnya. "Aku sungguh tidak tega membangunkannya. Sepertinya dia lelah sekali." Gumam Kyara. Namun ia teringat kembali jika Gerry belum menyentuh makanan sejak sampai tadi. "Sudahlah, sebaiknya aku bangunkan saja." Mulai mengguncang bahu Gerry.


"Ada apa?" Ucap Gerry dengan suara parau. Ia sungguh masih sangat mengantuk.


"Bangun dulu, Gerry. Kau belum makan sejak sampai tadi." Ucap Kyara tertunduk.


Gerry pun bangkit dari pembaringan.


"Aku siapkan makan siang dulu. Kau cuci mukalah terlebih dahulu." Ucap Kyara.


Gerry mengangguk menatap Kyara yang masih tertunduk. Jika biasanya ia akan marah saat Kyara bicara dengan tertunduk tanpa melihat wajahnya, namun saat ini Gerry hanya diam saja karna ia tahu jika Kyara masih sedikit takut jika berada di dekatnya.


Gerry menatap punggung Kyara yang sedang memanaskan kembali masakannya untuk disajikan. Sambil menunggu Kyara siap, Gerry pun mulai menyesap teh hangat yang baru saja diberikan Kyara kepadanya.


"Maaf lama." Ucap Kyara menyajikan masakannya di atas meja makan.


"Tak apa. Apa kau tidak ikut makan?" Tanya Gerry melihat hanya ada satu piring di atas meja.


"Aku makan di bawah saja nanti. Lagi pula aku sudah makan dua kali sejak bangun tadi." Cicit Kyara menunduk malu. Kyara pun mulai mengambilkan nasi dan lauk-pauk ke dalam piring.


Gerry hampir saja tertawa melihat wajah Kyara yang begitu lucu saat malu-malu itu. Namun melihat wajah Kyara yang sudah semakin memerah Gerry hanya diam saja dan mulai menyantap makanan yang sudah berisi nasi dan lauk-pauk yang sudah diisi Kyara di piringnya.


***


Apakah Kyara boleh luluh oleh sikap Gerry saat ini?