
"Ya. Aku mengkhawatirkanmu merasa tidak nyaman berada di apartemen ini sendirian." Tutur William.
Rania mengangkat wajahnya menatap pada pria bule yang sudah berhasil meluruhlantahkan hatinya saat ini. "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bukan anak kecil lagi. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri." Balas Rania.
William menatap tajam pada wajah yang terlihat semakin manis sejak terakhir kali ia melihatnya. "Kau memang bukan anak kecil lagi. Tapi saat ini kau adalah tanggungjawabku." Tekan William.
Helaan nafas Rania kian melambat. Ia tidak ingin terlalu lama berdebat dan berdekatan dengan suaminya sedekat ini karena tidak baik untuk kondisi jantungnya.
"Terimakasih telah mengkhawatirkanku." Ucap Rania pada akhirnya. "Apa kau sudah lapar? Aku sudah membuat beberapa macam masakan sejak siang tadi." Tanya Rania kemudian.
"Kebetulan aku sudah lapar kembali. Tunggulah di meja makan. Aku akan segera menyusul setelah mandi." Ucap William.
Rania mengangguk. Pandangan matanya sejenak terhenti pada mata perak yang membuat jantungnya bekerja tidak normal. Kemudian Rania pun buru-buru memutus pandangan mereka dan segera berlalu dari hadapan William.
*
"Apa kau yang memasak semua ini?" Tanya William menatap banyaknya macam makanan di hadapan mereka.
Rania mengangguk. Menarik kursi yang berhadapan dengan William setelah mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk ke dalam piring suaminya. "Aku tidak tahu rasanya enak atau tidak. Namun aku harap kau menyukainya karena aku tidak terlalu mengetahui selera orang yang sudah biasa hidup di luar negeri sepertimu." Tutur Rania.
William menyunggingkan senyumannya tipis. Tipis sekali. Bahkan Rania tak dapat melihat senyuman di wajah pria itu.
"Kenapa makananmu sedikit sekali?" Tanya William menatap piring Rania yang hanya terisi seperempatnya.
Rania tersenyum kikuk. "Aku sudah sangat kenyang. Bahkan aku sudah menghabiskan dua piring penuh kentang goreng sebelum kau pulang."
"Jika sudah kenyang, kenapa kau mau makan lagi?" William merasa heran.
"Tak masalah. Aku akan menemanimu untuk makan bersama." Balas Rania.
William tertegun. Ia tidak menyangka Rania mulai memperlakukannya layaknya seorang istri yang sangat mengargai sosok suaminya. Tiba-tiba saja rasa bersalah menyeruak di dadanya saat ia belum bisa memperlakukan wanita itu selayaknya istri sepenuhnya.
Mereka pun mulai makan dalam keheningan. Sesekali pandangan William tertuju pada wajah manis Rania yang sedikit tertutupi oleh beberapa helai rambut yang berjatuhan di wajahnya. Rania yang merasa diperhatikan pun semakin menundukkan wajahnya. Ia sungguh merasa sangat malu saat ini.
"Aku tidak menyangka jika saat ini kita sudah sah menjadi suami istri." Ucap William menjatuhkan bokongnya di samping Rania.
Rania terdiam sesaat. Pandangannya ikut tertuju mengikuti arah pandangan William. "Aku juga tidak menyangka. Semua ini terlalu terkesan mengejutkan bagiku. Apalagi saat aku mengetahui jika calon suamiku itu adalah dirimu" Balas Rania kemudian. Tiada nada bahagia di setiap ucapannya. Suara Rania hanya terkesan datar.
"Aku rasa kita sama-sama masih terkejut akan pernikahan ini." Tambah William.
Rania terdiam. Tak lama suaranya William pun mulai terdengar kembali.
"Rania... Maaf jika aku harus mengatakan ini. Aku harap kau bisa menjaga hatimu untuk tidak mencintaiku lebih dulu. Mungkin perkataanku saat ini sangat menyakiti hatimu. Namun aku hanya tidak ingin kau terluka oleh sikapku suatu saat nanti yang mungkin tidak sesuai dengan harapanmu saat ini."
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...