Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Bersembunyi


Dua minggu kemudian


Kyara nampak mengerjapkan kedua matanya kemudian membuka perlahan kedua kelopak matanya. Tangannya mengelus perutnya yang masih terbungkus selimut merasakan lapar yang teramat sangat. Matanya melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Hal yang sudah menjadi kebiasaannya selama dua minggu belakangan ini terbangun di jam yang hampir sama dalam keadaan kelaparan.


Kyara menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya kemudian turun dari ranjang. Berjalan mengendap-ngendap bagaikan pencuri keluar dari dalam kamarnya. Suasana di luar kamarnya masih gelap. Seperti biasanya, Kyara selalu menggunakan ponselnya sebagai alat penerangan. Kyara menghela nafas lega ketika ia sudah berada di dalam dapur.


Setelah memastikan keadaan aman, Kyara mulai mengambil masakan yang memang sudah ia sisihkan di dalam lemari makanan saat kondisi seperti saat ini. Kyara mulai menyalakan kompor dan memanaskan masakannya yang sudah dingin. Setelah dirasa cukup, Kyara pun memindahkan masakannya ke dalam piring.


Tangan Kyara dengan terampil menyendokkan nasi beserta lauk ke dalam piring. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk menyantap makanan itu masuk ke dalam perutnya hingga tandas. Di saat tengah menikmati makanannya, suara langkah kaki yang berjalan ke arah dapur membuat aktivitas Kyara terhenti.


Matanya seketika membola menyadari jika itu adalah langkah kaki Gerry yang sedang berjalan ke arah dapur. Dengan gerakan cepat Kyara menyambar piring yang ada di atas meja dan menyembunyikannya di bawah meja makan. Langkah kaki itu semakin mendekat. Kyara yang tidak tahu harus bersembunyi dimana dengan spontan bersembunyi di bawah meja makan memegang piring makanannya yang masih tersisa.


Glek


Dengan susah payah Kyara menelan salivanya ketika melihat kaki jenjang suaminya kini berada tepat di depan matanya. Kaki yang tidak tertutupi kain dan menampakkan bulu-bulu halus itu berhasil membuat tubuh Kyara bergetar. Kyara menarik nafasnya pelan untuk menetralisir kegugupannya. Bahkan piring yang dipegangnya sedikit ikut bergetar karena kegugupannya. Untung saja pergerakannya tidak menimbulkan bunyi yang membuat Gerry merasa curiga.


Mata Gerry memicing ketika melihat wajan yang masih berada di atas kompor dalam keadaan kotor. Tidak biasanya istrinya itu tidak membersihkan alat memasak setelah menggunakannya. Namun Gerry tak lagi memikirkannya. Apalagi mengingat dua minggu belakangan ini ia dan Kyara tidak pernah bertegur sapa. Dirinya masih kesal dengan penolakan Kyara yang melarangnya untuk menyentuhnya.


Merasa tujuannya ke dapur telah selesai, Gerry pun melangkahkan kakinya kembali menuju kamarnya.


Setelah melihat tubuh Gerry menghilang dari pandangan, Kyara pun keluar dari tempat persembunyiannya. Tangannya terulur mengelus dadanya karena Gerry tidak mengetahui keberadaannya di dapur. Kyara menghela nafas lega.


"Maafkan Mama yang membawamu ikut bersembunyi." Ucap Kyara pada bayi mungil yang masih bersemayam di perutnya. Mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.


Namun tiba-tiba mata Kyara mulai berkaca-kaca mengingat Gerry yang semakin acuh padanya. Entah mengapa akhir-akhir ini ia begitu merindukan memeluk suaminya dan mencium aroma tubuh suaminya dalam-dalam. Namun hal itu tidak mungkin dilakukannya. Kyara hanya bisa melepas rasa rindunya dengan memeluk pakaian Gerry yang setiap hari masih dicucinya.


***