
Waktu masih menunjukkan pukul 16.30 WIB. Namun Gerry sudah nampak rapi dengan setelan jas dan celana berbahan kain bewarna navy melekat indah di tubuhnya. Pagi ini ia memang harus menghadiri pertemuan penting dengan calon rekan bisnisnya di sebuah hotel yang jaraknya lumayan jauh dari apartemennya.
Gerry yang hendak melangkahkan kakinya ketika sudah keluar dari dalam kamar seketika berhenti. Telinganya samar-samar mendengar orang yang sedah muntah dari dalam kamar istrinya yang pintunya sedikit terbuka. Gerry menajamkan pendengarannya dan melihat ke dalam kamar Kyara. Pintu kamar mandi yang terbuka lebar membuat Gerry bisa melihat Kyara tengah memuntahkan isi perutnya di westafel.
Sejenak ia ingin memasukkan tubuhnya ke dalam kamar istrinya itu dan menanyakan apa penyebab Kyara muntah seperti itu. Namun ego dan gengsinya yang sangat tinggi membuat Gerry mengurungkan niatnya dan kembali melangkahkan kakinya menuju lantai bawah.
Pandangannya kini tertuju pada makanan yang ada di atas meja makan.
"Jika dia sedang sakit kenapa masih memaksa untuk memasak? Dia pikir aku tidak bisa membeli makanan di luar?" Dengus Gerry merasa kesal dengan sikap Kyara. Namun seperti biasanya Gerry tetap memakan masakan Kyara hingga tandas. Anggap saja ia sedang menikmati layanan yang diberikan Kyara karena sudah memberikan istrinya itu tempat tinggal gratis.
Pagi ini Gerry memutuskan untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa Asisten Jimmy seperti biasanya. Sesuai perintahnya, Asisten Jimmy akan menunggunya di hotel tempat pertemuan mereka dengan rekan bisnis yang akan menjalin kerjasama dengannya. Entah mengapa ia sangat ingin menikmati kesendirian di dalam mobilnya memperhatikan macetnya jalanan Ibu kota di pagi hari.
Pandangan Gerry teralihkan pada sosok anak kecil yang sedang berjalan beriringan dengan ibunya membawa sebuah karung di pundaknya. Ibu dan anak itu nampak terlihat berbicara dan terkadang tertawa sambil berjalan. Wajah mereka nampak ceria di balik pakaian lusuh yang mereka kenakan. Hati Gerry merasa menghangat melihat pemandangan itu. Walau hidup kurang dari kemewahan, namun mereka masih tetap hidup dengan bahagia.
Tiba-tiba saja pikiran Gerry melayang membayangkan jika suatu saat ia memiliki seorang anak. Hadirnya seorang anak yang akan menjadi pelengkap di hidupnya.
Mobil yang dikendarai Gerry pun akhirnya sampai di pelantaran hotel bintang lima. Gerry turun dari dalam mobilnya yang langsung di sambut asisten Jimmy.
"Apa Pak Andreas sudah datang?" Tanya Gerry sambil merapikan jasnya yang tidak berantakan.
"Pak Andreas sudah sampai sekitar 5 menit yang lalu, Pak." Jawab Asisten Jimmy.
Gerry mengangguk. Kakinya melangkah memasuki gedung hotel diikuti Asisten Jimmy di belakangnya.
"Aku dengar jika putra pewaris keluarga Dharma sudah berhasil mengembangkan bisnis mereka yang ada di Amerika saat ini." Ucap Gerry saat mereka berada di dalam lift.
Asisten Jimmy mengangguk membenarkan. "Putra keluarga Dharma memang sangat jenius walau usianya masih terbilang muda. Ia juga termasuk mahasiswa terbaik di kampusnya saat ini." Balas Asisten Jimmy.
"Segera siapkan proposal kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Dharma. Aku sangat ingin kita menjalin kerja sama dengan mereka." Titah Gerry yang langsung diangguki Asistem Jimmy.