Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Apa dia mempermainkanku?


"Saya sudah mengizinkannya, Bu. Lagi pula berada di sini selama saya melakukan perjalanan bisnis cukup membuat saya tenang. Karena ada yang menemani Rania di sini." Ucap William mengikuti kebohongan istrinya.


Ibu dan Ayah nampak mengangguk mengerti. Namun Bu Mela tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan anak dan mantunya karena ia merasa ada yang tidak beres dengan rumah tangga mereka.


Sore harinya, William, Gerry dan Kyara pun berpamitan untuk pulang ke Ibu kota karena besok hari William dan Gerry harus berangkat ke luar kota untuk meninjau pembangunan proyek kerja sama mereka.


"Dua hari lagi aku akan berangkat ke London untuk menemui Bianca." Ucap William saat mobil sudah memasuki jalanan Ibu kota.


Gerry yang sedang fokus menyetir mengalihkan pandangannya pada William.


"Apa kau yakin secepat itu? Bagaimana dengan pertemuan kita dengan Tuan Jo seminggu lagi?" Tanya Gerry.


"Steve akan mengurusnya. Untuk saat ini aku hanya ingin fokus mengurus permasalahan yang sedang terjadi dan menyelesaikannya." Ucap William dengan yakin.


"Baiklah. Aku akan membantumu. Satu minggu lagi aku akan menyusulmu setelah urusanku di sini selesai." Ucap Gerry.


William mengangguk dan tersenyum. "Terimakasih. Kau memang selalu bisa diandalkan." Ucap William serius.


Gerry mengangguk. "Rania dan kau adalah keluargaku. Sudah seharusnya aku ikut membantu permasalahan kalian. Dan Reno juga akan ikut membantu kita selama berada di sana nanti." Balas Gerry.


Suasana di dalam mobil pun kembali hening hingga mobil telah sampai di depan mansion Bagaskara.


"Apa kau tidak menginap di sini saja malam ini?" Tawar Gerry karena jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi.


"Tidak. Aku akan pulang ke apartemen."


"Baiklah." Gerry pun mulai membuka pintu belakang dan membangunkan istrinya yang masih tertidur lelap sambil memeluk putranya.


Mobil pun kembali melaju meninggalkan perkarangan mansion Bagaskara setelah Gerry dan Kyara masuk ke dalam mansion.


"Aku akan secepatnya menjemputmu dan anak kita." Tekad William tak ingin berlama-lama.


*


Satu minggu kemudian.


London, Inggris.


Dan di sinilah William berada. Di depan gedung bernama Bianca boutique yang cukup terkenal di kota itu.


"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Ucap salah satu pramuniaga dengan berbahasa inggris.


"Saya ingin bertemu dengan Nona Bianca." Balas William tanpa basa-basi.


"Maaf, Tuan. Tapi untuk saat ini Nona Bianca sedang tidak bisa dikunjungi karena Nona Bianca dan Nona muda Cilla baru saja berangkat ke kota C tadi pagi." Jelas Pramuniaga.


"Apa?!" William nampak mengetatkan rahangnya. "Kapan dia akan kembali?" Tanya William tidak sabar.


"Satu minggu lagi. Nona Bianca dan putrinya akan kembali satu minggu lagi."


Agh... Sial! Umpat batin William. Akhirnya siang itu William pun kembali ke hotel tempat penginapannya tanpa membuahkan hasil.


"Satu minggu lagi?!" William menggebrak meja di depannya. "Kau jangan bermain-main denganku, Bianca!" Amuk William merasa berang. Namun mengingat kembali dengan sikap Bianca yang tulus membuat William ragu jika saat ini Bianca tengah mempermainkannya.


William pun segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang lalu melakukan panggilan telefon dengan Gerry.


"Untuk satu minggu ini lebih baik kau mencari tahu apa saja aktivitas Bianca selama berada di sana dan siapa saja orang terdekatnya. Jika kau sudah mendapatkan orang yang menjadi teman dekat Bianca, maka kau dapat dengan mudah mencari informasi tentang kehidupan Bianca darinya selama ini."


***


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...