
Kyara menatap nanar tubuh Gerry yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Ia sudah seperti korban pemerkosan yang pelakunya adalah suaminya sendiri.
Kenapa kau begitu membenciku, Pak? Apa salahku sehingga kau selalu berprilaku buruk kepadaku. Apa karena aku sudah mengacaukan semua impianmu bersama kekasihmu? Atau memang aku ditakdirkan untuk selalu menjadi pihak yang tersakiti dan tidak pernah bahagia?" Batin Kyara merasa miris.
Kyara yang mengingat jika Gerry tidak mau ia masih berada di ranjang yang sama setelah pergumulan mereka pun memilih melangkah ke arah sofa setelah mengambil satu lembar selimut yang ada di dalam lemari. Rasa lelah dan remuk di tubuhnya membuat Kyara langsung tertidur tanpa mengenakan kembali pakaiannya.
Ketukan pintu dari luar membangunkan Kyara dari tidur lelapnya. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Berarti sudah hampir dua jam ia tertidur di atas sofa. Matanya melirik ke arah ranjang dimana Gerry sudah tidak ada di sana.
Dengan gerakan cepat Kyara memungut kembali pakaiannya dan mengenakannya. Setelah membukakan pintu, kening Kyara nampak berkerut melihat dua pelayan hotel yang kini tengah berdiri di depannya.
"Kami membawakan makan siang dan pakaian ganti untuk anda, Nona." Jelas pelayan hotel yang melihat kebingungan di wajah cantik Kyara.
Kyara mengangguk namun ia masih bingung siapa yang menyuruh kedua pelayan itu. Ia pun mempersilahkan kedua pelayan hotel memasuki kamar untuk meletakkan makanannya. Pantas saja perutnya sudah terasa lapar. Ternyata ia sudah melewatkan jam makan siangnya.
"Terimakasih..." Ucap Kyara setelah mereka selesai meletakkan makanan dan satu bungkus paper bag yang berisi pakaian.
"Tuan Gerry berpesan jika anda sudah selesai makan dan membersihkan diri, anda bisa langsung pulang ke apartemen. Sopir sudah menunggu anda di lobby, Nona." Jelas pelayan hotel sebelum keluar dari kamar.
Kini Kyara paham, jika suaminya-lah yang memerintahkan dua orang pelayan memberikannya makanan dan pakaian. Entah mengapa hatinya merasa bahagia, setidaknya masih ada setitik kebaikan di dalam diri suaminya untuknya. Kemudian raut wajahnya tiba-tiba bersedih mengingat Gerry yang pergi begitu saja tanpa menunggu dirinya.
Kyara memasuki apartemen dengan langkah lesu. Melihat lampu apartemen yang masih padam berarti Gerry belum kembali ke apartemen. Lalu kemana suaminya itu? Tidak mau ambil pusing, Kyara lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.
Bunyi ponselnya yang terus berdering membuat Kyara yang sedang membereskan lemari menghentikan aktivitasnya. Keningnya berkerut melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Hallo, Rania? Ucap Kyara ketika sudah menarik ikon bewarna hijau di layar ponselnya.
Hallo, Kya. Apa kau baik-baik saja? Suara Rania terdengar begitu panik di seberang telepon.
Aku baik-baik saja, Rania. Memangnya ada apa? Tanya Kyara. Karena tidak biasanya Rania menghubungi di saat waktu pulang bekerja seperti saat ini.
Tidak. Aku hanya dibawa ke apartemen karena kurang enak badan. Mungkin mereka takut jika aku pingsan lagi dan merepotkan mereka. Ucap Kyara terpaksa berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia dibawa ke hotel dan diperkosa oleh suaminya. Bisa-bisa Rania akan naik darah dan melabrak suaminya itu sekarang juga.
*
Kalau komennya banyak aku usahakan up lagi:)
Ayo ajak teman-teman kalian yang lainnya buat baca ceritaku, ya:)
*
*
*
*
*
Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
Jangan lupa mampir ke karya ku yang lain yang berjudul "OH MY INTROVERT HUSBAND"
Terimakasih tersayang💗