
Kyara nampak mengerjapkan kedua matanya. Perlahan mata bulatnya terbuka dengan sempurna. Pandangan Kyara mengedar memperhatikan sekelilingnya. Kyara sontak duduk dari tidurnya ketika menyadari ia kini tidur di dalam kamar ruangan Gerry.
"Agh, sakit sekali..." Lirih Kyara memegang kepalanya yang masih berat. "Kenapa aku bisa di sini? Dan siapa yang membawaku ke sini?" Kyara nampak berpikir keras. Ketika ingatannya sudah kembali, mata Kyara seketika membola. "Apa Pak William yang membawaku ke sini?" Kyara ingat jika terakhir kali dirinya tidak sadarkan diri ketika William berjalan ke arahnya. "Astaga... Bapak Gerry akan marah jika tahu aku memakai ruangannya." Segera ia turun dari ranjang dan keluar dari kamar.
Ketika membuka pintu kamar, pandangan Kyara langsung bertabrakan dengan Gerry. Kyara mencengkram erat ujung baju OBnya guna menetralisir kegugupannya. Ia merasa sangat lancang sudah menggunakan kamar suaminya itu untuk tidur. Setelah ini Kyara berniat mencuci sprai ranjang yang ia tiduri tadi sampai bersih.
"Anda sudah sadar Nona?" Tanya Jimmy yang sedang duduk di sofa. Sedangkan William tengah menebus obat Kyara. Agar ketika bangun Kyara langsung bisa meminum obatnya.
Pertanyaan Jimmy disalah artikan oleh Kyara. Menurutnya pertanyaan Jimmy seperti sindiran untuknya karena sudah lancang memakai kamar tuannya.
"Maafkan saya, Pak..." Cicit Kyara menunduk takut. "Saya juga tidak tahu bagaimana bisa saya berada di kamar Bapak..." Jelasnya. Wajahnya yang masih pucat membuat Kyara nampak begitu menyedihkan. "Saya akan mencuci sprainya setelah ini..." Tawar Kyara berharap Gerry tidak memakinya.
"Tidak perlu. Aku bahkan akan membakarnya setelah ini!" Cetus Gerry.
"Ara... Kau sudah sadar?!" Ucap William tiba-tiba ketika memasuki ruangan Gerry. Tangannya nampak memegang plastik kecil berisi obat untuk Kyara. William tersenyum lebar melihat Kyara yang sudah bangun dari tidurnya. "Apa kau tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu?" Ucapnya lagi ketika sudah berada dekat dengan Kyara.
"Maafkan saya sudah merepotkan..." Lirih Kyara tertunduk. Ia juga tidak ingin berada di posisi seperti saat ini.
Kyara menerimanya. Ia tidak mungkin menolak pemberian dari William yang sudah begitu baik padanya. Walau pun dengan wajah pucat, senyum manisnya tidak memudar sedikit pun dari wajahnya.
"Minumlah obatmu dan segera pulang! Saya tidak ingin mempekerjakan karyawan yang sedang sakit. Merepotkan saja!" Sengit Gerry. Melampiaskan amarah di dadanya melihat keakraban Kyara dan William.
"Bisakah kau berbicara lebih sopan, Gerry?" William nampak tak suka dengan dengan sikap Gerry yang terlalu berlebihan. "Ayo minum obatmu, Kya. Aku akan mengantarkanmu pulang setelah ini." Ucap William lembut.
Hati Kyara tersentuh melihat sikap William yang begitu baik padanya. Berbeda dengan suaminya yang selalu berprilaku dan berkata buruk padanya.
"Saya akan meminumnya di pantry saja, Pak... Setelah itu saya akan pulang... Dan maaf sudah merepotkan." Tidak mungkin ia masih berlama-lama di ruangan Gerry. Sedangkan sang pemilik ruangan terlihat tidak suka dengan keberadaannya.
"Kau minum di sini saja! Setelah ini aku akan mengantarkanmu pulang!" Tegas William.
"Apa kau lupa jika kita akan melakukan rapat sebentar lagi, William? Antarkan saja dia jika kau ingin melepas kesempatan kerjasama dengan perusahaan milikku!" Ancam Gerry. Karena tidak mungkin Gerry membiarkan William mengantarkan Kyara pulang. Bisa-bisa rahasia yang ia simpan selama ini akan terbongkar.
*