Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Jauh lebih menyakitkan


Usia kandungan Kyara pun sudah hampir memasuki 9 bulan. Dan selama itu pula Gerry masih selalu bolak-balik mengampiri Kyara untuk memastikan jika Kyara dan anaknya baik-baik saja.


Gerry mengetuk-ngetuk bolpoin di tangannya ke atas meja. Pria itu nampak sedang melamun. Setumpuk berkas di hadapannya tak berhasil membuat lamunan pria itu terhenti.


"Gerry..." William yang seperti biasa langsung masuk ke dalam ruangan Gerry itu pun membuat Gerry mendengus. Hubungan dua sahabat itu sudah berangsur menghangat kembali.


"Ada perlu apa kau datang kemari?" Tanya Gerry malas. Ia sungguh tidak ingin melihat wajah William saat ini. Karna itu bisa membuat suasana hatinya memburuk mengingat istrinya akan jatuh ke pelukan pria itu.


"Tentu saja untuk mengganggumu." Seloroh William. Kemudian mendaratkan tubuh di kursi yang berhadapan dengan Gerry.


Gerry hanya mendengus menanggapi William yang menurutnya sangat menyebalkan.


"Apa kau tidak mempunyai pekerjaan lain selain datang secara tiba-tiba ke perusahaanku?" Sindir Gerry. Pria itu kini mulai membuka satu persatu berkas di hadapannya.


"Hanya pekerjaan ini yang aku sukai." Selorohnya lagi.


"Cih."


Melihat raut wajah Gerry yang penuh beban, William pun tak lagi mengajak Gerry berbicara. William kini fokus pada ponselnya. Sampai William teringat dengan sesuatu yg ingin ia sampaikan.


"Apa kau tahu Gerry, jika empat bulan lagi aku akan menikah." Ucap William secara tiba-tiba.


Gerry nampak terkejut mendengar ucapan William. Pandangannya pun kini fokus pada William yang tengah menatapnya dengan seringaian tipis di wajahnya.


"Apa maksudmu? Apa secepat itu kau ingin berencana mengambil istriku sedangkan dia belum melahirkan?" Ucap Gerry sedikit meninggi.


William menanggapi dengan terkekeh kecil. Membuat Gerry mengepalkan tangannya erat di bawah sana.


"Aku sedang tidak bercanda, William!" Maki Gerry.


"Kau seperti orang yang sedang cemburu saja Gerry." Cibir William tanpa memperdulikan ekspresi Gerry yang ingin menerkamnya.


"Aku sedang tidak ingin bercanda William!" Tekan Gerry sekali lagi


"Ya, aku tahu."


"Aku memang ingin menikah empat bulan lagi. Tapi bukan dengan Kyara istrimu." Ucap William pada akhirnya.


Kedua mata Gerry membola. "Maksudmu? Jadi dengan siapa kau ingin menikah?"


"Entahlah. Aku juga tidak tahu dengan siapa." William terkekeh-kekeh. "Aku tidak tau wanita mana yang akan Mami jodohkan denganku kali ini. Yang jelas aku menyetujuinya bagaimana pun wanita itu." Jelas William.


"Jadi bagaimana dengan Kyara?" Gerry merasa heran.


"Kau tau Gerry. Kekhilafan terbesar apa yang pernah aku lakukan?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Ketus Gerry.


"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Aku hanya bertanya padamu."


"Jangan bertanya padaku. Karna kekhilafanmu sangat banyak dan aku tidak bisa mengingatnya!"


"Hahaha." Tawa William menggelegar.


"Kekhilafan terbesar yang pernah aku lakukan itu adalah mencintai wanita yang juga dicintai oleh sahabatku." Lanjutnya kemudian.


Gerry terdiam.


"Dan saat ini aku sadar, jika aku tak bisa melanjutkan perasaanku itu sedangkan sahabatku sendiri tersiksa karna perasaannya. Mungkin aku bisa saja mendapatkan wanita yang jauh lebih baik darinya. Namun belum tentu aku bisa mendapatkan sahabat yang sama seperti dirimu lagi."


"William..." Lirih Gerry menatap dalam kedua bola mata William.


"Jangan memikirkan perasaanku saat ini. Karna aku sudah belajar untuk melupakan perasaanku. Apa kau juga tau Gerry, jika perasaan tak terbalas itu juga menyakitkan? Dan aku sudah mengalaminya saat ini. Namun aku bahagia karna perasaanku tak terbalas karna dia mencintai pria yang berhak untuk ia cintai. Yaitu kau, Gerry."


***


Udah beri dukungan buat HSM belum hari ini?