
Kening Mama Riana nampak mengkerut melihat penampilan putranya. Rambut acak-acakkan, wajah yang nampak pucat serta mata yang masih memerah membuat penampilan Gerry begitu kacau. Dan perhatian Mama Riana pun teralih pada tangan Gerry yang nampak sedikit mengeluarkan darah bekas gigitan.
"Bagaimana keadaan cucu dan cicitku? Apa mereka baik-baik saja." Tanya Kakek Surya pada Gerry. "
"Iya. Bagaimana keadaan Kyara dan bayinya?" Timpal Rania.
"Kyara dan bayi kami baik-baik saja. Mereka sehat tanpa kekurangan satu apapun." Ucap Gerry membuat semua orang menarik nafas lega. Pandangan Gerry pun jatuh pada sosok Riana yang sedang menatap dirinya.
"Mama..." Gerry pun seketika berhambur ke pelukan sang bunda. Ketika mengingat kejadian di dalam ruangan tadi, Gerry baru menyadari begitu sulit perjuangan seorang ibu melahirkan anak-anaknya ke dunia.
"Maafkan sikap Gerry kepada Mama yang selalu buruk selama ini." Lirihnya.
Mama Riana menepuk punggung anaknya. Ia mengerti mengapa Gerry seperti ini. "Mama sudah memaafkan segala kesalahanmu sebelum kau meminta maaf."
*
Ruang rawat pasien.
"Tampan sekali cucuku..." Ucap Mama Riana saat perawat membawa bayi mungil itu masuk ke dalam ruangan.
Di atas ranjang, Kyara menatap bayi mungil itu dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh tidak menyangka jika saat ini sudah menjadi seorang ibu. Bayi tampan itu kemudian di dekatkan pada tubuh Kyara untuk diberikan ASI oleh Kyara. Papa Johan dan Kakek Surya yang mengerti jika Kyara ingin menyusui bayinya pun berpamitan keluar.
Perawat pun mulai membantu Kyara untuk bisa menyusui bayinya. Bayi tampan itu mulai menyedot sumber nutrisi saat put*ng sang ibu sudah masuk ke dalam mulutnya. Kyara nampak meringis saat pertama kalinya bayi itu menyedot dengan kuatnya.
"Apa sakit?" Tanya Gerry yang kini berdiri memperhatikan bayinya yang sedang aktif mengambil sumber nutrisi.
"Apa sakit, hem?" Tanya Gerry sekali lagi.
"Sedikit..." Ucap Kyara pada akhirnya.
"Dia sangat mirip seperti Gerry masih bayi..." Gumam Mama Riana mengingat pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Mama Riana pun kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mencari sesuatu di dalam sana.
"Lihatlah... Dia sangat mirip bukan denganmu?" Ucap Mama Riana pada Gerry memperlihatkan foto Gerry saat masih bayi.
Gerry nampak tertegun beberapa saat. Putranya itu memang sungguh mirip dengan wajahnya saat bayi dulu. Dan setelah hari itu Kyara dan Gerry pun memulai aktivitas mereka sebagai orang tua baru untuk si bayi mungil yang mereka beri nama Reynard Abrisam Bagaskara.
*
Tiga hari sudah Kyara dirawat di rumah sakit pasca melahirkan. Setelah memastikan kondisi Kyara dan bayinya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, akhirnya hari ini Kyara pun sudah diperbolehkan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan menuju mansion, Kyara tak henti memandang ke arah gedung-gedung menjulang tinggi yang ia lewati. Tak lama wanita itu nampak termenung dengan pandangan kosong.
"Kya..." Panggil Rania dengan pelan saat melihat Kyara yang sedang melamun. Kyara pun sontak menoleh.
"Ada apa?" Tanya Kyara. Kemudian menjatuhkan pandangan pada bayinya yang masih tenang tertidur di pangkuan Rania.
"Kau melamun? Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak. Aku tidak melamun. Aku hanya menikmati saat-saat terakhir berada di kota ini. Karna sebentar lagi kita akan kembali pulang ke kampung halamanmu bukan?" Ucap Kyara dengan sendu.
***